Biografi Romi Wijaya, Pemimpin yang Lahir dari Anak Nelayan - Warta Kayong

Breaking

Selasa, 01 Oktober 2024

Biografi Romi Wijaya, Pemimpin yang Lahir dari Anak Nelayan

  


Dari Mana Asal dan Orang Tua Romi 

 Nama Romi Wijaya, sudah sangat familiar di Kabupaten Kayong Utara. Dibalik sosoknya yang tak banyak bicara dan tenang,  Romi memiliki sisi lain yang tidak banyak diketahui publik. Romi merupakan anak ke-3 dari 6 bersaudara. Dia terlahir dari anak seorang nelayan. Ayahnya berasal dari Dusun Kecil (Pulau Maya), bernama Abdul Wahab. Abdul Wahab lebih dikenal dengan panggilan Ujang Plastik.Sedangkan ibunya, adalah asli kelahiran Sukadana, bernama Jamaiyah.

Orang tua Romi menikah pada tahun 1964.  Saat itu mereka bekerja sebagai nelayan di Dusun Kecil. Tahun 1970-an,  kedua orang tuanya mencoba peruntungan, dengan bekerja di perusahaan saumil PT. Setia Daya Raya Teluk Air, saat ini Kecamatan Batu Ampar. Ayahnya bekerja di saumil, sedangkan sang ibu mengurus kedua anaknya yang masih kecil, di asrama yang sederhana. Saat itu, sang ibu juga sedang hamil anak ketiga.

 

Foto Romi bersama sang Ayah (kanan)

Ayah Romi merupakan sosok pekerja keras. Disela-sela dia bekerja di saumil, waktu senggang, dia menyempatkan diri mencari ikan. Disamping itu, ibunya juga ikut  bekerja membantu suami dengan membuat kue dan menjajakannya berkeliling. Menawarkan kue dari satu pintu ke pintu lain di asrama. Hingga usia kehamilan beliau mendekati masa persalinan, barulah beristirahat.

 Di saat deru mesin dan hiruk-pikuk para buruh sedang bekerja, tepatnya 25 Juli 1974, lahirlah si jabang bayi dari rahim seorang ibu.  Si jabang bayi itu lahir dengan selamat, diberi nama Romi Wijaya. Tak berapa lama, Romi balita dan keluarga  pindah ke Sukadana. Selama di Sukadana, mereka tinggal bersama 1 atap dengan orang tua ibunya. Bukan hanya keluarga kecil Romi saja yang tinggal 1 atap, namun bersama bebepara kepala keluarga lainnya.

 Karena keadaan ekonomi yang sulit, tak berapa lama, mereka pindah kembali ke Dusun Kecil. Selama di Dusun Kecil, mereka menumpang di rumah keluarga, tepatnya di rumah paman ibunya bernama Sood. Pada saat itu, Sood menjabat sebagai Kepala Desa Dusun Kecil. Selama di Dusun, orang tuanya kembali bekerja sebagai nelayan.

 

Foto Romi kecil

 

Masa Kecil dan Remaja Romi

Romi kecil sempat sekolah di SD Dusun Kecil. Namun pindah ke SDN 01 Sukadana, mengikuti orang tuanya. Saat perpindahannya ke Sukadana, mereka dijemput dengan motor air. Meraka berangkat bersama Abdus Samad, atau Ayah samad  (74),  yang saat itu merupakan pegawai PLKB. Di Sukadana, mereka kembali berkumpul dalam satu rumah, dengan beberapa kepala keluarga. Kali ini, orang tuanya memantapkan hati untuk tidak pindah lagi. Mereka menetap di Sukadana, dengan pekerjaan ayahnya sebagai nelayan, dan kerja serabutan lainnya.

Karena ayah dan ibu Romi sering bekerja ke laut, maka dia diurus oleh sang bibi di rumah. Tugas romi adalah membantu  bibi serta kakek dan neneknya yang sudah usia lanjut. Pekerjaan rumah yang rutin ia lakukan adalah mengisi bak air, mengurus ayam, mencari kayu api, baik untuk keperluan dapur ataupun dijual.

Ayah Samad (Abdussamad), saksi hidup yang pernah dekat dengan Romi menuturkan mengenai keistimewaan pada diri Romi kecil. Menurutnya, Romi merupakan anak yang sudah mandiri sejak kecil, dia sosok pekerja keras dan ulet seperti ayahnya. Walaupun kelihatan pemalu dan pendiam, Romi anak yang cerdas dalam menangkap ilmu pengetahuan. Cerdas dalam memahami pengetahuan agama, dan pelajaran umum di sekolahnya. Untuk ilmu agama, dia dapatkan dari lingkungan keluarga. Dia belajar agama denga bibinya. Kemudian beberapa guru ngaji lainnya, serta mendalami dengan Dahlan Zainuddin. 

 Di sekolah, guru-gurunya kagum dengan kecerdasan Romi. Saat naik kelas 2 SD, hanya 1 minggu saja. Sebab saat di tes pelajaran kelas 3, semua dapat dijawab. Atas kejeniusannya, Romi diberikan reward langsung duduk di kelas 3 SD. Sejak saat itu, Romi kecil dikenal jenius.  Setiap kenaikan kelas, dia selalu mendapat juara umum. Prestasi ini bertahan dari sejak SD, SMP hingga SMA.

Romi saat usia SMP


Perjuangan Hidup Romi Dimasa Remaja 

 Selain sifatnya yang pendiam dan penurut, dia juga rajin membantu meringankan beban orang tuanya. Tentu bersama saudaranya yang lain, suatu saat, ketika dia pulang sekolah masa SMP, bersama sahabatnya Abdul Rahman, mereka menyusuri sungai dan melihat ada batang kayu. Keduanya pun mencebur dan mengambil kayu untuk di jadikan kayu api dan dijual.

Selain menjual kayu api, sejak SMP, Romi juga bekerja menjual pasir. Tepatnya di sungai gang gemuruh yang saat ini menjadi  pasar adalah salah satu lokasi Romi mencari pasir. Dengan menyelam di sungai, dia mengambil pasir sedikit demi sedikit, dan dikumpulkan lalu di jual.

 Sumiati, sahabat satu kelas Romi bercerita, Romi sempat tinggal di rumah datoknya, yaitu  Nerun. Datok Nerun memiliki warung di Simpang 4 Sukadana.  Beliau dikenal sebagai orang yang keras dan disiplin. Romi tinggal di rumahnya saat berusia SMP. Rutinitas Romi, membantu mencari daun simpur untuk membungkus kue/jajan di warung Datok Nirun. Maklum, saat itu penggunaan bungkus plastik belum seperti saat ini.

 Ketika Romi mencari daun simpur dan kayu bakar ke hutan, Romi remaja juga membawa catatan pelajaran sekolah. Saat melepas lelah dari mengumpulkan kayu bakar dan daun simpur, Romi membuka catatan dan belajar di hutan. Sebab saat seperti ini merupakan waktu senggangnya bagi Romi. Sehingga dimana pun dia sempatkan diri untuk belajar.

 

Romi remaja bersama teman temannya

Dikisahkan sahabat karibnya, Kacong Syafi`i. Saat SMP, dia kagum dengan kecerdasan Wiwit, sapaan akrab Romi Wijaya. Saat itu, usia Romi yang paling muda dan paling kecil diantara yang lain. Saat kelas 1 SMP, dia sering meminta bantuan dengan Romi. Dari PR (Pekerjaan Rumah), dan tugas lainnya Kacong sering minta bantu Romi. Kacong merasa heran, semua PR yang dikerjakannya tanpa bantuan dari orang, namun begitu mudah Romi menyelesaikan. 

 Menurut sahabat lainnya, Darta,  Romi kecil menurutnya sangat berkesan. Oranganya tidak pelit dengan ilmu, dan tidak pernah  menyakiti hati teman-temannya. Walau terlihat pendiam dan pemalu, sebenarnya Romi sangat asyik jika sudah bicara. Tentu dengan kehati-hatian. Sebab Romi sangat menjaga perasaan lawan bicaranya. Sikapnya yang demikian tidak berubah hingga saat ini.

 Yang sangat berkesan bagi Darta, ketika mereka masih kanak-kanak. Saking akrabnya Darta dengan Romi, Darta sering bermain ke rumah Romi. Saat mereka kelaparan sehabis bermain, saat itu ibu Romi sedang memasak di tungku dapur. Karena benar-benar lapar, mereka mengambil nasi yang masih panas di tungku, dengan lauk ikan bakar. Kebetulan ayah Romi baru saja membawa hasil tangkapannya dari laut.

 

Romi remaja  

Romi Pernah Berhenti Sekolah

 Saat Romi menginjak remaja, ketika masih SMP, sang ibu Jamaiyah kembali ke rahmatullah, tepatnya 1988. Sejak saat itu, Romi tidak memiliki ibu. Selanjutnya, dia dibina dan dibesarkan oleh sang ayah dan keluarga sebelah ibunya di Sukadana.

 Karena keadaan ekonomi yang sulit, setelah tamat SMP, Romi sempat tidak melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Romi merasa prihatin dengan keadaan keluarga, terutama sang ayah yang bekerja banting tulang menghidupi keluarga. Maka pada saat itu ia memutuskan untuk bekerja menjadi anak buah kapal dagang jurusan Sukadana Pontianak.

 Kapal dagang tersebut selain membawa kebutuhan logistik dari pontianak ke Sukadana, juga terkadang menerima jasa lain seperti carter, menarik kayu balok dan lain lain. Pernah suatu saat kapalnya menerima job menarik rakit kayu balok yang dibawa dari Semanai ke saumel Bumbun, saat ini Kabupaten Kubu Raya.

 Pada saat itu kapalnya yang sedang membawa rakit terhempas gelombang, sehingga rakit yang membawa kayu balok pecah. Romi sebagai salah satu ABK, tentu ikut berupaya menyelamatkan rakit. Dengan sigap dia naik ke rakit dan mencoba untuk memperbaiki, namun naasnya tali rakit yang menghubungkan ke kapal terlepas. Romi bersama rakit terombang ambing gelombang. Dia hanya bisa pasrah, hampir saja peristiwa ini merenggut nyawanya. 

Setelah satu tahun puas dengan kehidupan di laut, romi kembali dan disarankan keluarga untuk kembali melanjutkan Sekolah ke jenjang SMA.

 

Romi saat meniti karir di Pemerintahan

Perjuangan Romi Meniti Karir

 Saat di SMA Romi sambil mengajar les privat.  Bahkan saat pelajaran sekolah  kosong karena guru berhalangan hadir, Romi dipercaya mengajar menggantikan sementara guru tersebut. Hal ini karena Romi dinilai sebagai anak jenius dan mampu menguasai pelajaran diatas rata rata kebanyakan siswa.

Sosok Romi remaja yang terlihat pemalu, namun cerdas rajin dan ulet, membuat orang-orang bayak bersimpati. Salah satunya, yaitu Jamaluddin asal Pontianak, beliau pernah bertugas menjadi Camat Sukadana. Jamaluddin melihat kelebihan pada diri Romi muda. Melihat potensi yang luar  biasa  pada diri Romi, Jamaluddin sering memberikan motivasi dan dorongan ke Romi.

 Saat SMA, Romi sempat tinggal di rumah Camat Jamaluddin, bersama anaknya yang satu sekolah. Menurut Jamaluddin, Romi remaja sangat rajin dan ulet. Selama tinggal bersamanya, Romi kerap membantu pekerjaan rumah tanpa diperintah, seperti nebas kebun dan lain-lain. Melihat ketekunan dan kecerdasan Romi, Jamaluddin semakin simpatik terhadapnya. Sehiingga, ketika Romi lulus SMA, Jamaluddin mendorongnya melanjutkan ke perguruan tinggi, yakni STPDN. Alhamdulillah, Romi lulus di STPDN.

Namun belum usai menamatkan, Romi sakit dan berhenti dari STPDN dengan hormat. Tidak lama setelah berhenti, Romi ditugaskan di Kementrian Dalam Negeri Jakarta. Setelah 3 tahun, dia kembali pindah ke kantor Gubernur Kalbar, bagian biro kepegawaian.

Romi menjadi Pegawai Negeri Sipil 

 Karena prestasinya yang cukup baik, Romi mendapat tugas belajar, melanjutkan studinya di UGM mengambil D3 tahun 2002. Tak puas dengan ijazah D3, sambil bekerja, Romi kembali melanjutkan pendidikan di Untan, mengambil gelar S1 di Fakultas Sosial dan Ilmu Politik tahun 2005. Terakhir, dia mengambil gelar magister di UGM, dengan gelar Magister Sains (M.Si) pada tahun 2007.

Romi menikah dengan Tengku Mardiana tahun 1998. Setahun setelah pernikahannya, dia kembali berduka. Ayahnya, Abdul Wahab alias Bujang Plastik wafat, dan dimakamkan di Sukadana.

Dari perjalanan panjang tersebut, membentuk pribadinya menjadi disiplin dan berwawasan luas. Romi juga memiliki kompetensi khusus dibidang ilmu kepemerintahan. Ilmu ini kelak terbukti, ketika Kabupaten Kayong Utara menapaki masa-masa awal pemekaran (2007). 

 

H. Hildi Hamid bersama Romi 

Kesaksian Para Tokoh Mengenai Prestasi Romi Wijaya

H. Hildi Hamid mengakui, bahwa Romi merupakan satu diantara dari sekian banyak pejabat yang berperan penting dalam menjalankan roda pemerintahan, pada masa Hildi menjabat bupati 2 periode. Menurut Hildi Hamid, Romi merupakan sosok yang cerdas, disiplin dan memiliki integritas dalam menjalankan tugasnya. Beliau mengakui, waktu awal menjadi bupati, sempat kesulitan dalam mengurus birokrasi. Salah satunya, kesulitan dalam penentuan komposisi pegawai. Kemudian, Hildi mendangar kabar bahwa ada anak daerah yang bekerja  di kantor gubernur. Dia memiliki kompetensi di bidang tersebut. Dia adalah Romi Wijaya. Maka Romi dipanggil Hildi Hamid, agar mau pulang kampung dan mengabdi.

 “Waktu itu 2008, baru satu tahun Kayong Utara mekar, saya minta Romi di kepegawaian, khususnya mengatur komposisi yang pas untuk kabupaten baru. Nah saya melihat, setelah beberapa tahun berjalan, apa yang dikerjakan Romi sangat berdampak positif terhadap berjalannya sistem dalam birokrasi. Sehingga di masa kepemimpinan saya, banyak program yang berjalan beriringan. Sebab, kompetensi dari formasi pegawai yang telah dirancang oleh Romi berhasil,” ungkap Hildi Hamid.

Setelah sukses di kepegawaian, Romi Wijaya mengikuti lelang jabatan Kepala Dinas Pendidikan Kayong Utara 2016. Saat proses lelang jabatan ini, banyak pejabat yang mengikuti uji kompetensi. Tim pengujinya  para pakar. Hasil ujiannya disampaikan ke Bupati. Hildi Hamid mengungkapkan, bahwa hasil uji kompetensi Romi Wijaya yang paling memuaskan. Yaitu, melampaui dari peserta yang lain diseluruh Kalimantan Barat.

Setelah sukses menjadi Kepala Dinas Pendidikan, Romi menjabat sebagai Kepala Bappeda Litbang KKU dan Staf Ahli. Kemudian Sekda dan Penjabat Bupati Kayong Utara tahun 2023 – 2024. Dari sekian banyak jabatan yang Romi emban, Romi bekerja secara profesional sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Menurutnya, masing-masing telah memiliki takaran dan tugas masing-masing. Dia sebagai pucuk pimpinan, tugasnya meramu dan menselaraskan kinerja semua perangkat yang ada. Agar roda pemerintahan berjalan dengan optimal, demi pelayaan publik yang memuaskan bagi masyarakat.

Jemawi, sahabatnya semasa SMA, mantan Kades Sutera, memberikan kesaksian tentang Romi. Menurut Jemawi, Romi merupakan sosok yang berintegritas. Jemawi sangat pecaya, bahwa Romi mampu membawa Kayong Utara lebih baik kedepannya. Hal ini terbukti, semasa Romi menjabat dari nol  hingga dia menjadi Penjabat Bupati, Jemawi tak pernah mendengar ada masalah. Baik di masyarakat, atau berkaitan dengan hukum dalam masa jabatannya.

“Saya belum pernah dengar kalau Romi bermasalah, baik di mata hukum atau masyarakat. Dibalik sifatnya yang pendiam, dia juga orang yang tegas dan profesional. Ini terbukti terhadap keluarga dekatnya, saudara kandung dan sahabatnya saat Romi jadi Bupati, tidak ada yang cawe-cawe. Tak ada yang aneh-aneh. Saya juga salut dengan keluarganya Romi, mereka menjaga wibawa dan intergritas beliau,” ucap Jemawi.

Abah Mastum, Tokoh Agama Sukadana memberikan penilaian ke Romi. Menurut pandangannya, bahwa Romi orang  yang sabar dan bisa membawa damai. “Saya melihat aura pembawaan beliau itu positif. Karena itu, orang-orang dengan ikhlas membantu dan  mengingkan beliau menjadi pemimpin di Kayong Utara,“ tutur Abah Mastum, saat ditemui di kediamannya. 

Gus Hasan, Tokoh Agama Sukadana, pun mengungkapkan sosok Romi yang pendiam. Gus Hasan meyakini, orang diam seperti Romi Wijaya, diamnya diam berisi. “Beliau itu dalam diam pasti berpikir, dan apa yang dipikirkan itu sudah dirancang. Itu terbukti dari kinerja beliau selama ini, tidak pernah ada masalah. Maka tidak salah, jika bapak kita Oesman Sapta percaya dengan beliau,” pungkas Gus Hasan.

 

Perjuangan belum berakhir

Saat ini, Romi Wijaya maju sebagai bakal calon Bupati Kayong Utara. Dia sama sekali tidak berambisi untuk menduduki jabatan tersebut. Dalam wawancara eksklusif dengan penulis, Romi mengaku bahwa dia maju karena didorong banyak pihak. Bukan baru sekarang, sejak beberapa tahun yang lalu Romi sudah dipinta maju. Romi baru tergerak hatinya, setelah mendapat persetujuan dari istri tercinta, dari tokoh agama dan masyarakat. Bagianya, mungkin sudah saatnya dia mengabdikan diri, untuk menakhodai kapal besar yang bernama Kayong Utara.

Romi berharap, bahwa keinginan bersama untuk menjadikan Kayong Utara lebih maju, mesti didukung segenap laipisan masyarakat. Yaitu, dengan cara berbuat, bergerak dan bersinergi bersama. Sebab sejatinya Kayong Utara milik kita bersama. Kebijakan dan keputusan yang diambil, mestinya dilakukan secara bersama-sama, atas dasar kebutuhan, bukan kepentingan semata. Romi memiliki keyakinan, dengan modal dasar kebersamaan, Kayong Utara ‘maju’ Insya Allah akan terwujud.

 

  

Penanggung Jawab : Isya Fachrudi  - Penulis : Miftahul Huda -  Editor : Hs & Tim - Tim : M. Ridhowi, Edi, Marhadi, Santo

Nara Sumber: H. Hildi Hamid, Abdussamad, Jamaludin, Abah Mastum, Gus Hasan, Jemawi, Abdul Rahman, Junai, Kacong syafi`i, Darta, Sumiati.

Sumber Data :  Dokumen Pribadi dan lain lain

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar