Dari Mana Asal dan Orang Tua Romi
Orang tua Romi menikah pada tahun 1964. Saat itu mereka bekerja sebagai nelayan di Dusun Kecil. Tahun 1970-an, kedua orang tuanya mencoba peruntungan, dengan bekerja di perusahaan saumil PT. Setia Daya Raya Teluk Air, saat ini Kecamatan Batu Ampar. Ayahnya bekerja di saumil, sedangkan sang ibu mengurus kedua anaknya yang masih kecil, di asrama yang sederhana. Saat itu, sang ibu juga sedang hamil anak ketiga.
![]() |
Foto Romi bersama sang Ayah (kanan) |
Ayah Romi merupakan sosok
pekerja keras. Disela-sela dia bekerja di saumil, waktu senggang, dia
menyempatkan diri mencari ikan. Disamping itu, ibunya juga ikut bekerja membantu suami dengan membuat kue dan
menjajakannya berkeliling. Menawarkan kue dari satu pintu ke pintu lain di
asrama. Hingga usia kehamilan beliau mendekati masa persalinan, barulah
beristirahat.
![]() |
Foto Romi kecil |
Masa Kecil dan Remaja Romi
Romi kecil sempat sekolah di SD Dusun Kecil. Namun pindah ke SDN 01 Sukadana, mengikuti orang tuanya. Saat perpindahannya ke Sukadana, mereka dijemput dengan motor air. Meraka berangkat bersama Abdus Samad, atau Ayah samad (74), yang saat itu merupakan pegawai PLKB. Di Sukadana, mereka kembali berkumpul dalam satu rumah, dengan beberapa kepala keluarga. Kali ini, orang tuanya memantapkan hati untuk tidak pindah lagi. Mereka menetap di Sukadana, dengan pekerjaan ayahnya sebagai nelayan, dan kerja serabutan lainnya.
Karena ayah dan ibu Romi sering bekerja ke laut, maka dia diurus oleh sang bibi di rumah. Tugas romi adalah membantu bibi serta kakek dan neneknya yang sudah usia lanjut. Pekerjaan rumah yang rutin ia lakukan adalah mengisi bak air, mengurus ayam, mencari kayu api, baik untuk keperluan dapur ataupun dijual.
Ayah Samad (Abdussamad), saksi hidup yang pernah dekat dengan Romi menuturkan mengenai keistimewaan pada diri Romi kecil. Menurutnya, Romi merupakan anak yang sudah mandiri sejak kecil, dia sosok pekerja keras dan ulet seperti ayahnya. Walaupun kelihatan pemalu dan pendiam, Romi anak yang cerdas dalam menangkap ilmu pengetahuan. Cerdas dalam memahami pengetahuan agama, dan pelajaran umum di sekolahnya. Untuk ilmu agama, dia dapatkan dari lingkungan keluarga. Dia belajar agama denga bibinya. Kemudian beberapa guru ngaji lainnya, serta mendalami dengan Dahlan Zainuddin.
![]() |
Romi saat usia SMP |
Perjuangan Hidup Romi Dimasa Remaja
Selain menjual kayu api, sejak SMP, Romi juga bekerja menjual pasir. Tepatnya di sungai gang gemuruh yang saat ini menjadi pasar adalah salah satu lokasi Romi mencari pasir. Dengan menyelam di sungai, dia mengambil pasir sedikit demi sedikit, dan dikumpulkan lalu di jual.
![]() |
Romi remaja bersama teman temannya |
Dikisahkan sahabat
karibnya, Kacong Syafi`i. Saat SMP, dia kagum dengan kecerdasan Wiwit, sapaan
akrab Romi Wijaya. Saat itu, usia Romi yang paling muda dan paling kecil
diantara yang lain. Saat kelas 1 SMP, dia sering meminta bantuan dengan Romi.
Dari PR (Pekerjaan Rumah), dan tugas lainnya Kacong sering minta bantu Romi.
Kacong merasa heran, semua PR yang dikerjakannya tanpa bantuan dari orang,
namun begitu mudah Romi menyelesaikan.
![]() |
Romi remaja |
Romi Pernah Berhenti Sekolah
Setelah satu tahun puas dengan kehidupan di laut, romi kembali dan disarankan keluarga untuk kembali melanjutkan Sekolah ke jenjang SMA.
![]() |
Romi saat meniti karir di Pemerintahan |
Perjuangan Romi Meniti Karir
Sosok Romi remaja yang terlihat pemalu, namun cerdas rajin dan ulet, membuat orang-orang bayak bersimpati. Salah satunya, yaitu Jamaluddin asal Pontianak, beliau pernah bertugas menjadi Camat Sukadana. Jamaluddin melihat kelebihan pada diri Romi muda. Melihat potensi yang luar biasa pada diri Romi, Jamaluddin sering memberikan motivasi dan dorongan ke Romi.
Namun belum usai menamatkan, Romi sakit dan berhenti dari STPDN dengan hormat. Tidak lama setelah berhenti, Romi ditugaskan di Kementrian Dalam Negeri Jakarta. Setelah 3 tahun, dia kembali pindah ke kantor Gubernur Kalbar, bagian biro kepegawaian.
![]() |
Romi menjadi Pegawai Negeri Sipil |
Romi menikah dengan Tengku Mardiana tahun 1998. Setahun setelah pernikahannya, dia kembali berduka. Ayahnya, Abdul Wahab alias Bujang Plastik wafat, dan dimakamkan di Sukadana.
Dari perjalanan panjang tersebut, membentuk pribadinya menjadi disiplin dan berwawasan luas. Romi juga memiliki kompetensi khusus dibidang ilmu kepemerintahan. Ilmu ini kelak terbukti, ketika Kabupaten Kayong Utara menapaki masa-masa awal pemekaran (2007).
H. Hildi Hamid bersama Romi |
Kesaksian Para Tokoh Mengenai Prestasi Romi
Wijaya
H. Hildi Hamid mengakui, bahwa Romi merupakan satu diantara dari sekian banyak pejabat yang berperan penting dalam menjalankan roda pemerintahan, pada masa Hildi menjabat bupati 2 periode. Menurut Hildi Hamid, Romi merupakan sosok yang cerdas, disiplin dan memiliki integritas dalam menjalankan tugasnya. Beliau mengakui, waktu awal menjadi bupati, sempat kesulitan dalam mengurus birokrasi. Salah satunya, kesulitan dalam penentuan komposisi pegawai. Kemudian, Hildi mendangar kabar bahwa ada anak daerah yang bekerja di kantor gubernur. Dia memiliki kompetensi di bidang tersebut. Dia adalah Romi Wijaya. Maka Romi dipanggil Hildi Hamid, agar mau pulang kampung dan mengabdi.
Setelah sukses di
kepegawaian, Romi Wijaya mengikuti lelang jabatan Kepala Dinas Pendidikan
Kayong Utara 2016. Saat proses lelang jabatan ini, banyak pejabat yang
mengikuti uji kompetensi. Tim pengujinya
para pakar. Hasil ujiannya disampaikan ke Bupati. Hildi Hamid
mengungkapkan, bahwa hasil uji kompetensi Romi Wijaya yang paling memuaskan.
Yaitu, melampaui dari peserta yang lain diseluruh Kalimantan Barat.
Setelah sukses menjadi Kepala Dinas Pendidikan, Romi menjabat sebagai Kepala Bappeda Litbang KKU dan Staf Ahli. Kemudian Sekda dan Penjabat Bupati Kayong Utara tahun 2023 – 2024. Dari sekian banyak jabatan yang Romi emban, Romi bekerja secara profesional sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Menurutnya, masing-masing telah memiliki takaran dan tugas masing-masing. Dia sebagai pucuk pimpinan, tugasnya meramu dan menselaraskan kinerja semua perangkat yang ada. Agar roda pemerintahan berjalan dengan optimal, demi pelayaan publik yang memuaskan bagi masyarakat.
Jemawi, sahabatnya semasa SMA, mantan Kades Sutera, memberikan kesaksian tentang Romi. Menurut Jemawi, Romi merupakan sosok yang berintegritas. Jemawi sangat pecaya, bahwa Romi mampu membawa Kayong Utara lebih baik kedepannya. Hal ini terbukti, semasa Romi menjabat dari nol hingga dia menjadi Penjabat Bupati, Jemawi tak pernah mendengar ada masalah. Baik di masyarakat, atau berkaitan dengan hukum dalam masa jabatannya.
“Saya belum pernah dengar kalau Romi bermasalah, baik di mata hukum atau masyarakat. Dibalik sifatnya yang pendiam, dia juga orang yang tegas dan profesional. Ini terbukti terhadap keluarga dekatnya, saudara kandung dan sahabatnya saat Romi jadi Bupati, tidak ada yang cawe-cawe. Tak ada yang aneh-aneh. Saya juga salut dengan keluarganya Romi, mereka menjaga wibawa dan intergritas beliau,” ucap Jemawi.
Abah Mastum, Tokoh Agama Sukadana memberikan penilaian ke Romi. Menurut pandangannya, bahwa Romi orang yang sabar dan bisa membawa damai. “Saya melihat aura pembawaan beliau itu positif. Karena itu, orang-orang dengan ikhlas membantu dan mengingkan beliau menjadi pemimpin di Kayong Utara,“ tutur Abah Mastum, saat ditemui di kediamannya.
Gus Hasan, Tokoh Agama
Sukadana, pun mengungkapkan sosok Romi yang pendiam. Gus Hasan meyakini, orang
diam seperti Romi Wijaya, diamnya diam berisi. “Beliau itu dalam diam pasti
berpikir, dan apa yang dipikirkan itu sudah dirancang. Itu terbukti dari
kinerja beliau selama ini, tidak pernah ada masalah. Maka tidak salah, jika
bapak kita Oesman Sapta percaya dengan beliau,” pungkas Gus Hasan.
Perjuangan belum berakhir
Saat ini, Romi Wijaya maju sebagai bakal calon Bupati Kayong Utara. Dia sama sekali tidak berambisi untuk menduduki jabatan tersebut. Dalam wawancara eksklusif dengan penulis, Romi mengaku bahwa dia maju karena didorong banyak pihak. Bukan baru sekarang, sejak beberapa tahun yang lalu Romi sudah dipinta maju. Romi baru tergerak hatinya, setelah mendapat persetujuan dari istri tercinta, dari tokoh agama dan masyarakat. Bagianya, mungkin sudah saatnya dia mengabdikan diri, untuk menakhodai kapal besar yang bernama Kayong Utara.
Romi berharap, bahwa
keinginan bersama untuk menjadikan Kayong Utara lebih maju, mesti didukung
segenap laipisan masyarakat. Yaitu, dengan cara berbuat, bergerak dan
bersinergi bersama. Sebab sejatinya Kayong Utara milik kita bersama. Kebijakan
dan keputusan yang diambil, mestinya dilakukan secara bersama-sama, atas dasar
kebutuhan, bukan kepentingan semata. Romi memiliki keyakinan, dengan modal
dasar kebersamaan, Kayong Utara ‘maju’ Insya Allah akan terwujud.
Penanggung Jawab : Isya Fachrudi - Penulis : Miftahul Huda - Editor : Hs & Tim - Tim : M. Ridhowi, Edi, Marhadi, Santo
Nara Sumber: H. Hildi Hamid, Abdussamad, Jamaludin, Abah Mastum, Gus Hasan, Jemawi, Abdul Rahman, Junai, Kacong syafi`i, Darta, Sumiati.
Sumber Data : Dokumen
Pribadi dan lain lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar