Arsip Blog

Memaknai Maulid Nabi dengan Sikap Positif


Jepin Melayu Rantau Panjang Warta Kayong Kalbar

Kelahiran nabi adalah tauladan bagi umat. Inilah pesan yang ingin disampaikan Remas Babul Hasanah kepada generasi Islam. Memeriahkan Maulid Nabi, berbagai acara pun digelar, demi memotivasi generasi Islam untuk lebih mengenal agamanya.

SIMPANG HILIR – Remaja Masjid (Remas), Masjid Jami’ Babul Hasanah Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, kembali menyelenggarakan perlombaan yang bernuansakan islami, khusus tingkat remaja setara SD. Kali ini bertepatan dengan momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 Hijriah. Dengan cabang yang dipertandingkan, diantaranya Tilawah (putra/putri), Azan dan Shalat Subuh (putra), Qasidah tunggal (putra/putri) serta Lomba Busana Muslim (putra/putri).

Bertempat di halaman Masjid Jami’ Babul Hasanah Rantau Panjang, Minggu malam (19/1/2014), tepat pukul 19.30 WIB, atau ba’da Isya, Sarkandi, Kepala Desa (Kades) Rantau Panjang secara resmi membuka acara tersebut. Turut hadir pula Imam Masjid Jami’ Babul Hasanah, BPD Rantau Panjang, Anggota DPRD, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat serta ratusan pengunjung lainnya, yang ingin menyaksikan acara yang digagas Remas Babul Hasanah ini.

Dalam sambuatannya, Kades Rantau Panjang mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Remas. Menurut Kades, apa yang dilakukan Remas adalah kegiatan positif, untuk memotivasi anak-anak, remaja atau generasi Islam. Tentu perlu kita support. Kades berharap, kedepan, kegiatan seperti ini dapat ditingkatkan lagi.

Secara terpisah, Hasan, mantan Ketua Remas (2008–2011), Pembina Remas Babul Hasanah saat ini, mengungkapkan, kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi anak-anak agar lebih berminat mendalami agamanya. Selain itu, ini sebagai wujud kepedulian kita kepada generasi Islam, mengurangi dampak kenakalan remaja, serta merupakan bentuk/metode kita dalam meregenerasi estapet kepemimpinan Islam, dimulai dari hal-hal sederhana, namun besar manfaatnya, terang Hasan.

Yang terpenting dari perayaan ini, sambung Hasan. Kita ingin menyampaikan pesan kepada remaja Islam, generasi penerus bangsa, agar mereka mengetahui, mengenal sosok revolusioner Islam, pembangun peradaban dunia yang bermartabat. Seorang nabi dan rasul yang mampu membuat perubahan besar, dalam waktu yang relatif singkat. Seorang manusia yang memiliki akhlak mulia. Seorang motivator dan inspirator tak ada bandingnya. Penyampai wahyu Allah melalui al-Qur’an. Dialah Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua, bisa meneladani Banginda Rasullullah, harapan Hasan.

Rencananya kegiatan ini berlangsung selama empat hari, tanggal 19 – 22 Januari 2014. Jika tidak ada perubahan, insya Allah, Kamis malam (23/1), akan dilaksanakan acara inti, yaitu peringatan Maulid Nabi, ungkap Werliyadi, anggota Pembina Remas Babul Hasanah.

Ada sedikit rasa kecewa bagi penyelenggara kali ini. Even tingkat Desa Rantau Panjang ini seharusnya diikut delapan dusun yang ada di Rantau Panjang, namun hanya diikuti empat dusun saja, yaitu Dusun Ampera, Tebok Baru, Sepakat Jaya dan Makmur. Sedangkan Dusun Siput Lestari, Sinar Selatan, Kebal Manok dan Sinar Palung alpa. Sehingga pesertanya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dari empat cabang yang dipertandingkan, hanya diikuti 43 peserta saja. Sembilan orang dari cabang Tilawah, 6 orang dari cabang Azan dan Shalat Subuh, 11 orang peserta Qasidah dan 17 orang peserta Busana Muslim.

Sepertinya, jumlah peserta yang ikut serta tidak mempengaruhi antusias pengunjung untuk menyaksikan. Ratusan pengunjung memadati halaman masjid dan disisi jalan raya. Kegiatan pembukaan benar-benar terasa khikmat dan memukau penonton. Tampilan seni budaya Melayu setempat, mengundang tawa dan tepuk tangan hadirin.

Dimulai dari penampilan Tari Jepin dan Qasidah Uswatun Hasanah, pimpinan H. Salim Ya’kub, Imam Masjid Babul Hasanah. Dilanjutkan penampilan kelompok Qasidah SMPN 3 Simpang Hilir, serta Syair Gulung yang disampaikan Burhami, siswa kelas 1 SMAN 3 Simpang Hilir, benar-benar mengundang decak kagum hadirin. Mendengarkan syair gulung yang sarat petuah, nasehat dan penuh jenaka tersebut, membuat penonton terpingkal mendengarkannya● (Has)

Curahan Hati Oki Setiana Dewi


oki 5

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baiklah, saya ingin sedikit bercerita kepada Sahabat sekalian. Saya sangat berbahagia berada di majlis ini. Saya sangat bangga berada di tengah-tengah kalian. Para bidadari-bidadari surga dan calon peminang bidadari surga yang menjadikan al-Qur’an sebagai sahabat sejati.”

“Beberapa pekan yang lalu, saya berkunjung ke Rumah al-Qur’an Universitas Indonesia yang berada di kawasan Beji – Depok. Ketika memasuki gerbangnya, hati saya bergetar hebat. Rumah itu memang kecil. Bahkan, saya baru tahu bahwa di rumah itu, setiap kamarnya dihuni oleh enam orang. Tapi, kecil fisiknya bukan berarti kecil pula maknanya.”

“Yang membuat saya bergetar takjub adalah para bidadari- bidadari dunia yang sibuk dengan mushafnya. Ada yang sekedar membukanya, khusyu’ bertilawah, sibuk hafalan, atau yang sibuk mengulang hafalan di setiap sudut rumah itu. Sungguh! Pemandangan yang menenangkan hati di tengah hedonisnya kehidupan di luar sana. Di rumah itu, al-Qur’an tidak pernah berhenti didzikirkan. Ketika satu akhwat berhenti, maka akhwat lainnya melanjutkan. Sungguh!!! Hati saya bergetar melihat pemandangan itu.”

“Sahabatku sekalian, menghafal al-Qur’an adalah cita-citaku. Semuanya bermula ketika saya shooting film Ketika Cinta Bertasbih di Mesir. Saya sangat bersyukur dengan apa yang telah diberikanNya pada saya.”

“Pada suatu hari, dalam sesi santai, kami jalan-jalan untuk melepas lelah. Ada sekumpulan anak yang menghampiriku. Akupun menyambutnya dengan bahagia, mereka menganggap kami seperti warga mereka sendiri. Kemudian, terjadilah sebuah dialog yang menghenyakkan pikiran dan hati. Sebuah dialog yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelumnya.Ya, karena yang bertanya adalah anak-anak yang usianya sekitar belasan tahun.”

“Anak itu bertanya kepadaku, ‘Kau seorang Muslimah?’ Jawabku, ‘Iya, saya Muslimah.” Sampai di sini, ia berhenti. Ada tangis yang ditahannya. Entah, Aku tidak tahu. Setelah itu, anak ini memberikan sebuah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Pertanyaan yang menyadarkan kelalain saya selama ini. Pertanyaan yang membuat saya tak bisa memejamkan mata dalam bebarapa saat di malam harinya.”

“Tanyanya, ‘Sudah berapa juz Hafalan al-Qur’anmu?’ Allahu Akbar walillahil hamd! Anak sekecil itu bertanya tentang hafalan. Saya diam terpaku. Lidah ini kaku untuk sekedar mengatakan berapa jumlah hafalan saya. Saya malu, belum banyak hafalan. Saya malu pada diri sendiri, malu pada anak kecil itu dan sangat malu kepada Allah yang telah menciptakan diri ini. Rasa malu itu semakin bertambah ketika sahabat-sahabatnya menyahut, mereka menjawab padahal yang ditanya adalah Saya. Kata salah satu dari mereka, ‘Aku sudah delapan juz,’ Sahut yang lain, ‘Aku sudah sepuluh juz,’ dan seterusnya.”

Setelah bebarapa saat, ia kembali berkata, “Sejak saat itu, saya berkomitmen untuk kembali menghafal al-Qur’an secara rutin, sesuai kemampuan saya.”

“Dalam kesempatan yang lain, saya diberi nikmat dari Allah untuk melaksanakan umroh. Di pinggiran masjid Nabawi, ada halaqoh al-Qur’an yang dipimpin oleh seorang ustadzah. Mereka berada dalam sebuah lingkaran cahaya. Semua peserta adalah anak kecil, sekitar usia Sekolah Dasar. Dalam halaqoh tersebut, saya bergabung. Ada sebuah hal yang ganjil. Saya, adalah peserta paling besar sekaligus paling aneh. Sayalah satu-satunya peserta yang memegang mushaf al-Qur’an. Sementara anak-anak kecil itu, tidak memegang mushaf. Kajianpun dimulai. Sang ustadzah menyebut secarik ayat secara acak, kemudian anak-anak kecil itu dimintanya untuk melanjutkan bacaan ayat tersebut. Subhanallah sahab tku… mereka melanjutkan dengan lancar apa yang dibaca oleh sang ustadzah. Dan kalian tahu apa yang kulakukan?”

Sambil menahan tangis agar tidak tumpah, ia melanjutkan, “Saya sibuk membolak-balikkan mushaf mencari ayat yang sedang dibaca oleh anak-anak kecil itu. Dan sampai akhir, saya hanya sibuk membolak-balik mushaf dan tidak menemukan ayat yang kucari itu. Saya malu pada diri, malu pada anak kecil itu dan sangat malu pada Allah yang telah menciptakanku.”

“Maka, sepulang dari Madinah, kesadaran saya mulai tumbuh. Di tengah pujian berbagai pihak atas prestasiku di bidang lain, ternyata saya masih kalah dengan para penghafal al-Qur’an itu. Merekalah yang layak dipuji, merekalah yang layak di elu–elukan. Merekalah yang layak disanjung dan diagungkan. Karena mereka adalah pembawa panji Islam, mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihanNya.” Pungkasnya sambil tetap menahak isak.

*Sebagaimana disampaikan oleh Oki Setiana Dewi dalam sebuah acara Mabit di Masjid at-Taqwa Pasar Ahad – Jakarta Selatan, dengan perubahan seperlunya. Insya Allah tidak mengurangi makna. [Pirman]

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2014/01/curahan-hati-oki-setiana-dewi.html?showComment=1389801659041#c61095582697672661

%d blogger menyukai ini: