Arsip Blog

Curahan Hati Oki Setiana Dewi


oki 5

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Baiklah, saya ingin sedikit bercerita kepada Sahabat sekalian. Saya sangat berbahagia berada di majlis ini. Saya sangat bangga berada di tengah-tengah kalian. Para bidadari-bidadari surga dan calon peminang bidadari surga yang menjadikan al-Qur’an sebagai sahabat sejati.”

“Beberapa pekan yang lalu, saya berkunjung ke Rumah al-Qur’an Universitas Indonesia yang berada di kawasan Beji – Depok. Ketika memasuki gerbangnya, hati saya bergetar hebat. Rumah itu memang kecil. Bahkan, saya baru tahu bahwa di rumah itu, setiap kamarnya dihuni oleh enam orang. Tapi, kecil fisiknya bukan berarti kecil pula maknanya.”

“Yang membuat saya bergetar takjub adalah para bidadari- bidadari dunia yang sibuk dengan mushafnya. Ada yang sekedar membukanya, khusyu’ bertilawah, sibuk hafalan, atau yang sibuk mengulang hafalan di setiap sudut rumah itu. Sungguh! Pemandangan yang menenangkan hati di tengah hedonisnya kehidupan di luar sana. Di rumah itu, al-Qur’an tidak pernah berhenti didzikirkan. Ketika satu akhwat berhenti, maka akhwat lainnya melanjutkan. Sungguh!!! Hati saya bergetar melihat pemandangan itu.”

“Sahabatku sekalian, menghafal al-Qur’an adalah cita-citaku. Semuanya bermula ketika saya shooting film Ketika Cinta Bertasbih di Mesir. Saya sangat bersyukur dengan apa yang telah diberikanNya pada saya.”

“Pada suatu hari, dalam sesi santai, kami jalan-jalan untuk melepas lelah. Ada sekumpulan anak yang menghampiriku. Akupun menyambutnya dengan bahagia, mereka menganggap kami seperti warga mereka sendiri. Kemudian, terjadilah sebuah dialog yang menghenyakkan pikiran dan hati. Sebuah dialog yang tidak pernah saya bayangkan sama sekali sebelumnya.Ya, karena yang bertanya adalah anak-anak yang usianya sekitar belasan tahun.”

“Anak itu bertanya kepadaku, ‘Kau seorang Muslimah?’ Jawabku, ‘Iya, saya Muslimah.” Sampai di sini, ia berhenti. Ada tangis yang ditahannya. Entah, Aku tidak tahu. Setelah itu, anak ini memberikan sebuah pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Pertanyaan yang menyadarkan kelalain saya selama ini. Pertanyaan yang membuat saya tak bisa memejamkan mata dalam bebarapa saat di malam harinya.”

“Tanyanya, ‘Sudah berapa juz Hafalan al-Qur’anmu?’ Allahu Akbar walillahil hamd! Anak sekecil itu bertanya tentang hafalan. Saya diam terpaku. Lidah ini kaku untuk sekedar mengatakan berapa jumlah hafalan saya. Saya malu, belum banyak hafalan. Saya malu pada diri sendiri, malu pada anak kecil itu dan sangat malu kepada Allah yang telah menciptakan diri ini. Rasa malu itu semakin bertambah ketika sahabat-sahabatnya menyahut, mereka menjawab padahal yang ditanya adalah Saya. Kata salah satu dari mereka, ‘Aku sudah delapan juz,’ Sahut yang lain, ‘Aku sudah sepuluh juz,’ dan seterusnya.”

Setelah bebarapa saat, ia kembali berkata, “Sejak saat itu, saya berkomitmen untuk kembali menghafal al-Qur’an secara rutin, sesuai kemampuan saya.”

“Dalam kesempatan yang lain, saya diberi nikmat dari Allah untuk melaksanakan umroh. Di pinggiran masjid Nabawi, ada halaqoh al-Qur’an yang dipimpin oleh seorang ustadzah. Mereka berada dalam sebuah lingkaran cahaya. Semua peserta adalah anak kecil, sekitar usia Sekolah Dasar. Dalam halaqoh tersebut, saya bergabung. Ada sebuah hal yang ganjil. Saya, adalah peserta paling besar sekaligus paling aneh. Sayalah satu-satunya peserta yang memegang mushaf al-Qur’an. Sementara anak-anak kecil itu, tidak memegang mushaf. Kajianpun dimulai. Sang ustadzah menyebut secarik ayat secara acak, kemudian anak-anak kecil itu dimintanya untuk melanjutkan bacaan ayat tersebut. Subhanallah sahab tku… mereka melanjutkan dengan lancar apa yang dibaca oleh sang ustadzah. Dan kalian tahu apa yang kulakukan?”

Sambil menahan tangis agar tidak tumpah, ia melanjutkan, “Saya sibuk membolak-balikkan mushaf mencari ayat yang sedang dibaca oleh anak-anak kecil itu. Dan sampai akhir, saya hanya sibuk membolak-balik mushaf dan tidak menemukan ayat yang kucari itu. Saya malu pada diri, malu pada anak kecil itu dan sangat malu pada Allah yang telah menciptakanku.”

“Maka, sepulang dari Madinah, kesadaran saya mulai tumbuh. Di tengah pujian berbagai pihak atas prestasiku di bidang lain, ternyata saya masih kalah dengan para penghafal al-Qur’an itu. Merekalah yang layak dipuji, merekalah yang layak di elu–elukan. Merekalah yang layak disanjung dan diagungkan. Karena mereka adalah pembawa panji Islam, mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihanNya.” Pungkasnya sambil tetap menahak isak.

*Sebagaimana disampaikan oleh Oki Setiana Dewi dalam sebuah acara Mabit di Masjid at-Taqwa Pasar Ahad – Jakarta Selatan, dengan perubahan seperlunya. Insya Allah tidak mengurangi makna. [Pirman]

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2014/01/curahan-hati-oki-setiana-dewi.html?showComment=1389801659041#c61095582697672661

” Kondisi Kerangka Masjid BABUL HASANAH Dalam Keadaan terbengkalai “


KONDISI MASJID BABUL HASANAH DESA RANTAU PANJANG

Oleh : Irwansyah

       

Masjid Bubul Hasanah terletak di Desa Rantau Panjang Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara Kalimantan Barat, yang berlokasi di RT 6 Dusun Tembok Baru dengan luas bangunan yang ada ± 45 M² dengan luas tanah bangunan 650 M². tahun 2008 panitia telah mendapatkan tanah hibah disekitar masjid dari sdr. Alhusaini seluas ± 300 M². kemudian Jadi luas keseluhan tanah hibah/wakab masjid  ± 950 M².   Dari luas tanah tersebut, panitia akan merubah pembangunan yang ada dengan bangunan yang baru, mengingat bangunan yang ada sudah terlalu tua usianya dan pondasi yang ada sudah banyak yang rapuh, karena bangunan tersebut menggunkan bahan/material dari kayu ulin dan penyangga dari kayu kelas 1 yang telah termakan usia. Kemudian jarak masjid tersebut terlalu dekat dengan badan jalan raya (jalan provinsi), sehingga dari sisi keamanan dan keindahan sangat tidak aman dan menarik.

Letak Masjid Babul Hasanah sangat strategis, karena letaknya persis di pusat akses jalan desa Rantau Panjang yang berdampingan dengan TK Sartika dan TPQ Miftahul Jannah Desa Rantau Panjang. Secara geografis letak masjid tersebut yaitu utara berbatasan dengan TK Sartika/TPQ Miftahul Jannah, selatan dan barat berbatasan dengan tanah  masyarakat setempat dan timur berbatasan dengan jalan propinsi.

Peletakan Batu Pertama oleh Bapak Bupati Kayong Utara

Bapak H. Hildi Hamid

Masjid adalah tempat suci bagi umat Islam dalam melaksanakan hubungan vertikal dengan Sang Khaliq. Selain itu juga merupak simbol Persatuan Umat Islam dalam kehidupan sosial. Selain sebagai tempat sarana dan prasana Ibadah, Masjid juga sebagai tempat untuk melakukan aktivitas lainnya seperti Pengajian, Peringatan hari-hari besar Islam, tempat musyawarah kaum Muslimin serta tempat menempa/membina Mental Spiritual dan bahkan Masjid dapat menjadi pusat/sentral perekonomi masyarakat serta tempat untuk menetapkan kebijakan publik.

Seperti halnya yang kami telusuri di Masjid Babul Hasanah Desa Rantau Panjang ini tentu tidak terlepas dari manfaat dan fungsi tersebut di atas, baik aktivitas Agama Islam maupun aktivitas social lainnya. Namun untuk menjadi sentral perekonomian umat masih jauh dari harapan. Bukan tidak mungkin, tetapi memerlukan proses yang luar biasa panjang, karena Masjid ini masih dalam tahap pembangunan yang memerlukan Dana yang tidak sedikit. Menurut Panitia Pembangunan Masjid Babul Hasanah yang kami temui; Yang terpenting bagi yayasan/panitia adalah bagaimana mewujudkan bangunan fisik masjid yang sangat memprihatikan ini, sesuai dengan program pembangunan jangka pendek, menengah dan panjang.

Klik Gambar untuk melihat lebih jelas.

      

Kondisi Masjid Babul Hasanah Hingga 2013 saat ini

Menurut Panitia Melihat kondisi Masjid Babul Hasanah yang sangat memprihatikan tersebut, maka Yayasan Pendidikan Sartika mengambil bagian dalam Memobilisasi komponen umat Islam yang ada, salah satu upaya yang dilakukan Pihak Yayasan yaitu membangun komunikasi dan koordinasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama dan mengakomodir Panitia pembangunan Masjid Babul Hasanah ke dalam Yayasan.

Dari hasil komunikasi dan koordinasi yang dilakukan Yayasan Pendidikan Sartika, disepakati bahwa untuk melaksanakan pembangunan dan merawat masjid tersebut, Panitia pembangunan Masjid Babul Hasanah Rantau Panjang bergabung dan bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Sartika Kabupaten Kayong Utara.

Adapun tujuan yang ingin dicapai yayasan/panitia yang terbentuk, secara garis besar  yaitu   :

  1. Terbangunnya fisik Masjid Babul Hasanah yang sesuai dengan item dan bidang perkerjaan yang ditetapkan oleh panitia;
  2. Mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, baik warga muslim Rantau Panjang maupun masyarakat muslim pada  umumnya;
  3. Memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan silaturrahmi dalam kehidupan;
  4. Sebagai motivasi masyarakat dalam beribadah, baik ibadah yang bersifat ritual maupun ibadah sosial;
  5. Menjembatani pembangunan yang mengacu pada aspek aspirasi sosial dan tujuan prioritas yang akan dicapai;
  6. Menjalin pola kemitraan, baik dengan pihak swasta maupun pemerintah, baik di dalam maupun diluar daerah.

Klik Gambar untuk melihat lebih jelas.

   

Kondisi Masjid Babul Hasanah Hingga 2013 saat ini

Menurut Panitia Pembangunan yang kami temui, Untuk mencapai tujuan tersebut tentuya dibutuhkaan dukungan, sumbang saran, support dana dari semua kalangan Umat Muslim dimuka bumi ini.  Sebelum berita ini kami terbitkan, Panitia Pembangunan Masjid Babul Hasanah telah berusaha untuk mencari sumber sumber dana/biaya yang dianggap sangat potensial yaitu: dimulai dari Iuran Rutin Panitia, Swadaya masyarakat, Donatur atau dermawan, Pemerintah dan Perusahaan/proyektor pembangunan, serta Usaha lain yang sah dan tidak mengikat

Dari ke- 6 sumber dana/biaya yang dijelaskan Panitia Pembangunan Masjid Babul Hasanah ini, yang paling dominan adalah yang bersumber dari para Donator/Dermawan dan Pemerintah. Sebab Donator/Demawan adalah orang yang bergerak di bidang usaha/wiraswasta yang secara finansial memiliki ekonomi lebih dari masyarakat petani dan nelayan. Sedangkan Pemerintah adalah individu atau penyelenggara pemerintahan yang berkewajiban mengayomi serta menyelenggarakan pembanggunan, baik yang berupa fisik maupun non fisik. Dalam hal ini kafasitas pemerintah adalah fasilitator pembangunan dan pelayan publik. Sebagai penyelenggara pemerintahan, sudah tentu pemerintah memiliki fasilitas dan kemudahan serta anggaran yang tesedia. terutama penyelenggaraan pemerintahan daerah Otonomi dewasa ini.

         Kemudian sumber dana/biaya yang di dapat dari swadaya masyarakat dapat diperkirakan minim sekali, mengigat ekonomi masyarakat rata-rata dibawah garis kemiskinan. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan lapangan pekerjan yang tersedia, kondisi ekonomi yang belum setabil serta rendahnya SDM yang ada. Sedangkan dana yang didapat dari perusahaan sangat relatif, artinya biasa saja mencapai angka diatas setandar dan bisa juga di bawah standar  atau bahkan nol sama sekali dalam arti kata adanya tekanan/kerterbatasan secara finansial oleh perusahaan itu sendiri. Hal ini tentunya tergantung pada keberadaan dan kesediaan perusahaan/peroyek tersebut untuk berpartisipasi dalam pembangunan rumah ibadah ini (Masjid Babul Hasanah).

            Dari hasil penelusuran Media Online Warta Kayong, kami sempat men-scan data anggaran Perencanaan pembangunan & biaya-biaya yang telah dipergunakan dalam pembangunan yang sedang berjalan. Berikut data yang kami peroleh dari Panitia Pembangunan Masjid Babul Hasanah yaitu Sdr. ZAMRONI selaku Bendahara Pembangunan:

Klik Gambar untuk melihat lebih jelas.

  

 Data Rencana Anggaran                                      Data Kekurangan Dana Anggaran

          Dari hasil data tersebut Jumlah pendapatan selama 3 tahun hingga 2013 yang hanya berjumlah Rp. 278.664.000,- sehingga kekurangan dana yang sejumlah Rp. 614.346.000,- memang sangat diperlukan support dan dukungan Dana dari semua kalangan, agar semua pembangunan yang telah berjalan tidak terbengkali sehingga bisa lekas diselesaikan minimal pencapaian pembangunan fisik 80%.

         Bagi Pembaca berita ini, Warta Kayong selaku Mediasi Online mengajak Handai Taulan untuk memberikan dukungan/mensupport dana kepada Masjid ini.  Besar harapan Panitia Pembangunan Masjid ini, Jika ada ke-Ikhlasn hati handai taulan semua untuk mejadi Donatur atau ingin Menyumbang Dana guna membantu kesulitan Yayasan/Panitia Pembangunan Masjid Babul Hasanah dalam pencarian Dana, kami Media Warta Kayong telah memperoleh Nomor Rekening Masjid tersebut dari sdr ZAMRONI selaku Bendahara.

Rekening Masjid Babul Hasanah Desa Rantau Panjang:

Bank                     : BRI UNIT TELOK MELANO

Nama                   : BABUL HASANAH RANTAU PANJANG

No. Rekening    :     4812-01-004292-53-5

Alamat                : Desa Rantau Panjang RT:06/RW:II

                Ucapan terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada semua kalangan,  jika berikhlas hati untuk mensupport dana bagi Masjid kami dan sedikit mengurangi beban panitia Pembangunan Masjid Babul Hasanah ini pencarian Dana/Biaya pembangunan ini. Tutur  sdr  Zamroni dkk Panitia ketika ditemui di Masjid tersebut. Wassalam

%d blogger menyukai ini: