Arsip Blog

Pulau Karimata Dan Ikan Napoleon

Bentangor Milik Yayasan Palung Diserbu Warga


Hasanan Jurnalis KKU Kalbar3

Hari ini, Sabtu (14/12/2013), bertempat di Desa Pampang Harapan Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara, aula Bentangor milik Yayasan Palung didatangi warga. Pasalnya aula yang berukuran lebih kurang 64 M² tersebut bukan diserbu para demonstan, namun para peserta pelatihan Citizen Jaunalism, atau dalam bahasa kampungnya yaitu Jurnalisme Kampung.

Kegiatan yang digagas United States Agency International Develoment (USAID) Amerika bekerjasama dengan Yayasan Palung, ini benar-benar menantang ide-ide berpikir peserta. Para peserta merasa termotivasi untuk menulis, sebab pemateri yang dihadirkan USAID adalah orang-orang  yang bergelut dalam dunia jurnalistik, yang pengalaman mereka tidak diragukan lagi.

Para pemateri yang mengisi pelatihan jurnalis tersebut diantaranya Severianus Endi (wartawan The Jakarta Post), Budi Miank (Pemred Pontianak Post), Pay Jarot Sujarwo (penulis aktif), Rantan dan Alexander Merieng dari USAID, serta turut hadir Mahmudi (watawan Pontianak Post) dan Abdul Khair (wartawan TVRI Kalbar).

Pelatihan ini berlangsung selama 2 hari, yaitu 14 – 15 Desember 20103, dengan perserta yang terdiri dari kalangan pelajar SMA, guru, aktivis masyarakat dan perwakilan ormas lainnya. Lebih dari 20 orang peserta antusias mengikuti pelatihan ini. Sedangkan dari Warta Kayong (WK) mengutus empat orang reporternya, guna untuk mendalami ilmu jurnalistik sebagai bekal awak media WK dalam mengelola medianya.

Hasanan Jurnalis KKU Kalbar

Dalam kesempatan tersebut, pak Rantan sebagai perwakilan USAID mengatakan, pelatihan ini baru pertama kalinya dilaksanakan di Kayong Utara. Ini tentu wujud kepedulian USAID pada masyarakat KKU dan lingkungannya. Sebab bagi kami, peran media sangat besar dalam mempengaruhi pandangan orang lain.

Yang terpenting, “Lanjut pak Rantan,” manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Satu hal lagi  pesan yang ingin saya sampaikan untuk kita semua, jika anda menjadi penulis, tolong juga angkat masalah yang ada kaitannya lingkungan dan kelestariannya. Sebab lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Jangan sampai nasib kita seperti Ethopia. Kerusakan alam Ethopia yang berlangsung panjang akibat ulah pendahulu mereka, membuat rakyat Ethopia menderita dan mati kekeringan hari ini.

Pemateri selanjutnya Pay Jarot Sujarwo. Pay, (panggilan akrab Pay Jarot Sujarwo) pun banyak berbagi pengalamannya sebagai penulis. Beliau aktif menulis sejak SD hingga sekarang. Buku diary adalah teman akrabnya. Dari buku-buku diary tersebutlah lahir 17 buah karya tulisnya yang sudah dibukukan, salah satu karyanya momentalnya yaitu “Sepok, Dari Kampung Arang Hingga Kampung Orang.” Sebab beliau berasal dari Kampung Arang Kab. Kubu Raya, diundang keliling dunia karena hasil karya tulisnya.

Kemudian, jika anda ingin menjadi penulis hebat kuncinya hanya tiga, yaitu: Menulis, Menulis dan Menulis. Namun perlu diingat “Lanjut Pay,” seorang penulis pun harus aktif dengan buku dan harus banyak membaca, kerena dengan membaca akan menambah pengetahuan dan pengalaman kita, sehingga hal tersebut menjadi motivasi dan referensi kita dalam menulis. “Jangan pikirkan apa yang ingin Anda tulis,  tapi tulislah apa yang Anda rasakan,” motivasi Pay kepada peserta.

Dalam membuat dan menyampaikan berita, itu harus benar-benar fakta, bukan rekayasa lapangan atau hasil renungan di atas meja, sebab beda antara opini dan berita tersebut. Jika anda salah menulis berita, apa lagi tanpa konfirmasi dengan narasumbernya, maka itu bisa fitnah, anda bisa dituntut “terang Severianus Endi,” penyampai materi setelah Pay.

Hasanan Jurnalis KKU Kalbar2Suasana hangat, santai dan penuh ilmu tersebut membuat para peserta merasa rileks dan enggan beranjak dari tempat duduknya. Tambah lagi suasana alam yang sejuk dan asri di sekitar lokasi pelatihan, membuat peserta merasa betah dan nyaman mengikuti pelatihan.

Perasaan menyenangkan tersebut diakui salah satu peserta, Ario, siswa kelas 2 SMA 2 Sukadana. Dia merasa senang mengikuti pelatihan ini, karena selain menambah wawasan saya, saya pun jadi lebih semangat lagi untuk menulis. Apa lagi pelatihnya degel-degel (lucu/suka humor), jadi kami tidak nagntuk mendengarnya, “aku Ario.”

Antusiasme peserta begitu terasa. Dari sekian tugas yang diberikan nara sumber, tak satu pun dari peserta yang mengeluh atau tidak melaksanakannya. Kerana bagi peserta ini adalah momen penting yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sebagaimana harapan pak Rantan perwakilan USAID – fasilitator pelatihan Citizen Jounarlism alias jurnalis kampung● (Has)

Batu Cap Sukadana


batuffcap

Batu Sukadana adalah batu cap atau batu bergambar (rock painting) yang berada di Desa Sedahan JayaKecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, merupakan salah satu peninggalansejarah pada masa lampau. Peninggalan ini diduga merupakan warisan nenek moyang bangsa Kayong utara yang pertama kali meninjakkan kaki di Kalimantan.

Keturunan orang kayong menurut legenda berasal dari Indochina atau India belakang, berimigrasi ke Kalimantan dan terlebih dahulu singgah di Kepulauan Karimata. Kemudian tempat pendaratan ke dua adalah Sukadana yang pada masa dulu merupakan tempat yang strategis dilihat dari Laut China Selatan.

Batu bergambarkan coretan yang sampai kini belum jelas artinya ini merupakan situs purbakala yang ditemukan sejak tahun 1874 diduga merupakan jejak imigran itu. Menurut beberapa arkeologyang datang, batu bertulis ini sudah tercatat di Jakarta sebagai situs purbakala, ditemukan sejak tahun 1874 tetapi tidak mengetahui siapa yang menemukan perama kali batu itu. Dugaan sementara batu ini ada pada zaman sebelum mengenai tulisan , jauh lebih tua dari batu bertulis yang ada.

qq

Batu Cap ini ramai dikunjungi oleh kalangan orang Tionghoa, untuk berbagai keperluan. Sedang pihak pengunjung lain misalnya adalah para peneliti dari Pusat Arkeolog nasional di Jakarta dan para peneliti muda bidang pra sejarah dari Balai Arkeolog yang ada di Bandung dan sejumlah mahasiwa peneliti lainnya.

Jati diri sebuah bangsa merupakan kekuatan utama untuk menghadapi persaingan global yang terasa semakin ketat dewasa ini. Kearifan masa lalu dapat dipakai sebagai pijakan menentukan arah strategi suatu bangsa untuk mempertahankan eksistensinya. Karena disadari atau tidak, nilai-nilai yang terkandung dalam objek peninggalan masa lalu sangat bermanfaat, antara lain dalam bidang akademiideologi, sertaekonomi.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Tranportasi cukup lancar, namun pengunjung perlu menempuh berjalanan mendaki selama 1 jam untuk dapat mencapai lokasi di bukit yang cukup terjal.

Gua tersebut merupakan gua alam, diduga merupakan tempat pemujaan atau tempat bersemedi nenek moyang bangsa Indonesia. Lebar batu 14 meter dengan dinding yang bergambar seluas 10 m2. Tulisan yang tampak berbentuk coretan gambar dan lambang-lambang seperti huruf paku yang tidak jelas. Belum banyak yang diungkap dari para peneliti mengenai batu cap ini, mengingat struktur huruf atau gambar yang berbeda dengan penemuan lainnya di Indonesia.

KM Karimata Kurang Terawat


 

33

Dua hari yang lalu , ke Kecamatan Kepulauan Karimata naik kapal penumpang seharga 1,7 Milyar milik Dinas Perhubungan KKU .
Alhamdulillah lebih mudah bagi masyarakat Kepulauan yg hendak pulang pergi ke Kayong Utara .
Namun sayangnya belum genap dua tahun beroperasi , kapal mahal tersebut tampak tak terawat . Instalasi listrik yg kabel-kabelnya semerawutan, di tambah WC bau pesing yg instalasi airnya tak lagi berfungsi . Saat kapal masih berlabuh di kuala tiba- tiba Seorang ibu muda yg duduk di samping saya muntah2 , semula saya kira dia mabuk laut , saat saya tanyakan hal itu padanya ia lantas menjawab :
” saye ndak tahan mencium bau wc tu makcik… , pesing “.

1

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=232361923586504&set=pcb.289886731152272&type=1&relevant_count=4&ref=nf

Kepulauan Karimata Diresmikan


Mulai Hari Ini Kecamatan di KKU Bertambah
Sukadana –

Mulai Senin (27/9), jumlah kecamatan di Kabupaten Kayong Utara akan bertambah dari lima menjadi enam kecamatan. Pasalnya, Kecamatan Kepulauan Karimata hasil pemekaran dari Kecamatan Pulau Maya Karimata akan diresmikan.

Kabag Humas dan Protokoler Setda Pemkab Kayong Utara, Drs Joni Tarigan, menyampaikan kecamatan baru tersebut akan diresmikan langsung Bupati Kayong Utara, H Hildi Hamid, di Desa Pelapis sebagai ibukota Kecamatan Kepulauan Karimata.

Sebelumnya, Bupati Kayong Utara H Hildi Hamid, mengatakan, tidak bisa dimungkiri, suatu perubahan ke arah yang lebih baik memerlukan proses. Untuk itu, dikatakan dia, Pemkab Kayong Utara akan berupaya secepatnya menyiapkan perangkat yang diperlukan di kecamatan baru tersebut. Sehingga proses pelayanan di kecamatan bisa berjalan.

Ia menambahkan, tujuan dari pemekaran ini untuk mendekatkan pelayanan, bukan sebaliknya mempersulit warga. Tapi untuk menuju ke sana perlu proses.

“Sambil menyiapkan berbagai perangkatnya, dan pemekaran ini demi pelayanan yang ujungnya kesejahteraan warga menjadi prioritas,” terangnya.

Dengan adanya pemekaran kecamatan, kendali pelayanan akan menjadi lebih pendek, sehingga lama waktu yang dibutuhkan dalam mengurus pelayanan semakin cepat dan memperlancar pembangunan.

Selain itu, dengan semakin dinamisnya kebutuhan masyarakat, sehingga menuntut aparatur pemerintahan untuk memberikan layanan yang maksimal kepada masyarakat.

“Dengan berkembangnya suatu daerah dan bertambahnya penduduk, menuntut kita untuk memekarkan kecamatan sehingga pelayanan menjadi maksimal,” ujar Bupati.

Ia mengharapkan dengan adanya wilayah kecamatan baru, dapat membuka peluang bagi Pemkab Kayong Utara untuk menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya daerah lebih optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang juga akan berdampak langsung pada beban kerja kecamatan induk yang semakin ringan. (lud, equator, ed 26/09/11).

Liputan Bang Ujang Tingang:
Namun sayang, kecamatan baru tersebut kantornya sepi dari aktivitas. Pejabat camat yang sudah dilantik entah kemana rimbanya. Camat hanya datang ke Palapis (ibu kota) Kecamatan Karimata Kepulauan (KKP) tersebut max 2 kali dalam sebulan, itupun hanya datang memancing ikan saja, ungkap warga setempat. Di Pelapis, Bergunung masalah tapi enggan disentuh camat, bahkan camat dan pemerintahan desa setempat terkesan membiarkan masalah-masalah yang ada. Ibarat pepatah orang tua-tua, “Retak mencari belah,” itulah pribahasa yang tepat untuk camat KKP, sebab ia merasa tidak betah ditempattugaskan di daerah kepulauan yang serba minim fasilitas.

Lalu, apa paedah peresmian KKP tersebut???? Sementara pelayanan terhadap publik, khusunya masayarakat KKP hanya 0,10 % saja.. Masyarakat setempat lebih merasa mudah berurusan saat masih menyatu di Kecamatan Pulau Maya Karimata (PMK) dulu. Sungguh IRONIS nasibmu KKP…………..

%d blogger menyukai ini: