Arsip Blog

Rumuskan Multimedia Tekhnologi Mandiri Bersama SMAN 1 Simpang Hilir

Pemimpin Baru, Harapan Baru

Kursi Sementara Dapil 4

Berikan Pendidikan Politik yang Baik untuk Masyarakat

Sosialisasi Program Pemda KKU 2014 – 2018


sosialisasi program bupati kku, warta kayong

SIMPANG HILIR – Bertempat di Graha Praja Kantor Camat Simpang Hilir, Senin (10/3/2014), Bagian Kesejahteraan Sosial (Kesos) Pemda KKU, melakukan Sosialisasi Program Bupati dan Wakil Bupati Priode 2014 – 2018. Salah satu program yang dimaksud, yaitu mencetak Sepuluh Sarjana Perdesa. Dengan demikian, 2018, KKU memliki sarjana strata 1 (S 1) sebanyak 430 orang. Ini demi mengenjot sumber daya manusia (SDM) KKU yang masih tertinggal.

Dikatakan Idrus, Wakil Bupati (Wabup) Kayong Utara dalam arahannya, pada dasarnya, program Bupati dan Wakil Bupati 2014 – 2018 merupakan program lanjutan priode sebelumnya, yaitu pendidikan dan kesehatan gratis, yang merupakan program unggulan Pemda KKU. Namun, khusus di bidang pendidikan, priode ini ditambah dengan program 10 sarjana perdesa. Program ini tentu untuk meningkatkan kualitas SDM di KKU yang masih terbelakang, ungkap Wabup.

Menurut Wabup, beasiswa yang diberikan Pemda pada program 10 sarjana perdesa, yaitu untuk kategori siswa berprestasi dan siswa tidak mampu. Mekanisme rekrutmennya, khusus siswa berprestasi, data tersebut diperoleh dari sekolah. Setiap sekolah (SMA/SMK/MA) mengrimkan data 10 orang siswa berprestasi ke Dinas Pendidikan (Dispen) Kabupaten, kemudian dinas kabupaten melakukan seleksi kembali dari seluruh data yang ada.

Sedangkan untuk kategori siswa miskin, data tersebut diperoleh dari desa, sebab, desa yang lebih tahu tentang kondisi warganya. Kemudian, Kepala Desa dan Camat merokomendasikan siswa tersebut, selanjutnya disampaikan ke Dispen Kabupaten. Dari data siswa berprestasi dan siswa miskin yang terdata, intinya, setiap desa terdiri dari 2 orang pertahun, baik kategori siswa berprestasi maupun siswa tidak mampu, terang Wabup.

Dimana peran masyarakat? Tanya Wabup. Peran masyarakat yaitu mengawasi dan mengawal program ini dengan baik. Jangan sampai program ini salah sasar, atau datanya dari hasil manifulasi. Dan perlu diingat! Program 10 sarjana perdesa ini diperuntukan untuk putra daerah. Sebab itu, hak masyarakat untuk mengawalnya. Laporkan jika terjadi penyimpangan. Bupati kita membuka ruang untuk publik, melalui SMS langsusng ke Bupati, tegas Wabup.

Tentang fasilitas kuliah, mahasiswa hanya tinggal kuliah saja. Semua biaya ditanggung Pamda. Namun perlu diketahui, pemilihan universitas, fakultas atau jurusan bagi calon mahasiswa yang mendapat beasiswa 10 sarjana perdesa, ditentukan Pemda KKU sesuai kebutuhan SDM yang ada di KKU. Pungkas Wabup.

Menurut Kepala Sub Bagian (Kasubag) Kesos, Ichwani, S.Pd.I, dari sekian universitas negeri yang dijajaki untuk kerjasama program tersebut, baik di Kalbar maupun luar kalbar, baru Universitas Tanjungpura (Untan) yang menyediakan kuota. Untan menyediakan 54 orang kuota calon mahasiswa baru untuk program tersebut. Sedangkan di luar Untan, seperti UGM Yogyakarta, tak memberikan kepastian angka untuk KKU.

Menjawab pertanyaan peserta, ketika masa jabatan Bupati dan Wakil Bupati tersebut habis tahun 2018, sedangkan program 10 sarjana perdesa hanya diatur dengan Peraturan Bupati (Perbup), yang secara yuridis (hukum) dapat berubah dengan pergantian Bupati baru. Ichwani menjelaskan, bahwa Pemda telah membuat program pilihan, yaitu On Going.

Dijelaskan Ichwani, On Going adalah program pilihan bagi siswa yang tidak masuk dalam kategori siswa berprestasi dan tak mampu, serta untuk mengantisipasi ketika tahun 2018 masa jabatan Bupati sekarang berakhir. Jadi, dengan On Going, program tersebut tetap jalan, mahasiswa tahun 2018 tetap dapat kuliah dengan beasiswa dari Pemda KKU.

Tujuan sosialisasi hari ini, yaitu agar masyarakat tahu, paham dan ikut mengawal program yang telah dicanangkan Pemda KKU untuk masyarakatnya. Sehingga program ini benar-benar diketahui dan dapat dikawal langsung masyarakat KKU, jelas Ichwani. (Has)

Ketika Demokrasi Ternodai

Disiplin dan Ketegasan sang Pemimpin


perdana menteri china, warta kayong kalbar

“Beri saya 100 Peti Mati, 99 akan saya gunakan untuk mengubur para Koruptor, dan 1 peti untuk saya, kalau saya melakukan tindakan korupsi,” pernyataan Zhu Rongji, Perdana Menteri China.

Itulah ucapan Zhu Rongji, Perdana Mentri China yang melegenda dalam membrantas korupsi di negerinya. Koruptor di China dieksekusi hukuman mati di depan publik, meski mereka menerima suap atau mengkorupsi beberapa milyaran rupiah nilai mata uang Indonesia.

Banyak yang menentang hukuman mati tersebut, tapi Zhu tetap konsisten dengan peraturan yang telah ditetapkan. Dan terbukti, hukuman mati tersebut efektif dan menjadi momok buat mereka yang mau korupsi. Contohnya, enam koruptor China yang ditembak mati :
1. Wakil Walikota Hangzhou, Xu Maiyong (52th)
2. Wali Kota Suzhou, Jiang Renjie (62 th)
3. Pejabat Bank, Xiao Hongbo (37 th)
4. Menteri Kereta Api China, Liu Zhijun (60 th)
5. Pejabat Provinsi Jiangxi, Hu Chang-qing Hu
6. Pejabat Partai Komunis, Cheng Kejie Wakil ketua Kongres Rakyat Nasional.

Ekonomi China maju, karena mereka berani dan tegas melawan korupsi. Sejak 2007, sudah 4800 pejabat China yang korupsi menjadi terpidana mati. Cadangan devisa China pun terbesar di dunia. Amerika saja tak mampu mengalahkan cadangan devisa dan pertumbuhan ekonomi China.

Di Indonesia, korupsi ratusan milyar bahkan trilyunan, bukannya dipotong jari atau tangannya, malah di potong masa tahanan! Sebab itu tak aneh, meski sudah tertangkap, kita lihat saja di TV, para Koruptor masih tersenyum sambil melambai-lambaikan tangannya. pertanda girang. Karena, uang yang dikorupsinya tak sebanding dengan masa tahanannya, dan itu dapat ditebus pula.

Kami Masyarakat Anti Korupsi SETUJU, koruptor adalah para pengkhianat bangsa, penjajah bangsa sendiri. Sebab itu, mereka layak di HUKUM MATI. Terutama yang merampas uang rakyat bermilyar-milyaran, bahkan trilyunan. Anda setuju….?

Sumber: Sandy Octora_https://www.facebook.com/shandy.dkill?viewer_id=100001600229122

Masyarakat Simpang Hilir “Bersuara”


Ramah Tamah Camat Simpang Hilir KKU Warta Kayong Kalbar

Ada dua permasalahan yang sangat urgen disampaikan masyarakat Simpang Hilir, dalam Acara Tatap Muka dan Ramah Tamah dengan Mic Novianto, S.H. (Camat baru), didampingi Idrus (Wabup KKU), yaitu kondisi Ibu Kota Kecamatan yang terkesan semeraut/kumuh dan masalah air bersih.

SIMPANG HILIR – Momentum acara Tatap Muka dan Ramah Tamah, Kamis (16/1/2014), yang diselenggarakan Mic Novianto, S.H. Camat Simpang Hilir defenitif yang baru dilantik, benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk menyampaikan keluh-kesahnya kepada Pemerintah. Dari setiap perwakilan masyarakat Simpang Hilir, seperti perwakilan Kepala Desa, perwakilan Tokoh Masyarakat dan perwakilan Tokoh Agama, menyuarakan aspirasi mereka kepada Pemerintah.

Abdul Rani, perwakilan Tokoh Masyarakat Simpang Hilir, menyorti beberapa hal berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) pemerintahan, terutama pemerintah kecamatan.  Beliau mengulas, “Adanya Pemerintahan, tentu karena adanya masyarakat.” Perlu harmonisasi antara Pemerintah dengan masyarakat, agar roda pemerintahan tidak berjalan timpang, papar Abdul Rani, mantan Camat Teluk Batang, yang telah pensiun beberapa tahun yang lalu. Abdul Rani Warta Kayong Kalbar

Dikatakan Abdul Rani, Pemerintah Kecamatan, terutama Camat sebagai pimpinannya, perlu merubah kondisi Ibu Kota Kecamatan yang saat ini terkesan kumuh dan semeraut. Ini tentu pekerjaan rumah (PR) bagi camat baru. bersama Muspika dan unsur masyarakat yang ada, kita harus menata ulang kondisi Kota Kecamatan kita, agar tampil menarik, sehat, aman dan nyaman dipandang mata, ujarnya.

Kemudian, sambung Abdul Rani, Tim PPK Kecamatan pun harus menghidupkan 10 Program Pokok PPK kecamatan, yang saat ini terlihat redup. Salah satunya, menghidupkan kebun PPK. Memotivasi ibu-ibu dan Tim PKK di desa, agar mereka bisa memanfaatkan lahan perkarangan untuk menambah penghasilan keluarga, minimal untuk konsumsi sendiri, sehingga dapat mengurangi biaya dapur dan beban suami, harapannya.

Berbeda dengan Abdul Rani, Eko Siswanto, wakil dari Tokoh Agama Simpang Hilir menyampaikan, kebutuhan dasar masyarakat Simpang Hilir yang belum terpenuhi saat ini, adalah air bersih. Ini merupakan kebutuhan dasar yang paling utama. Selama belasan tahun, rata-rata masyarakat Simpang Hilir mengantungkan air bersih dengan air hujan, atau membeli dengan penjual air yang harganya relatif tinggi. Sebab, mereka mengambil air bersih dari Desa Haparap Mulia Kecamatan Sukadana.

IPA Rantau Panjang Warta Kayong KalbarMengutip Hadist Rasullullah, Ustadz Eko Siswanto menjelaskan, bahwa, sesunggunhya kita manusia di dunia ini adalah imigran, pendatang atau numpang, bukan penduduk asli. Kehidupan kita sesungguhnya adalah akhirat. Sebagai imigran yang baik, tentu kita harus meninggalkan dunia ini dalam keadaan baik-baik juga. Demikian juga dengan penempatan jabatan. Camat sekarang merupakan penganti camat sebelumnya. Sampai waktu, Pak Camat sekarang pun akan digantikan dengan camat yang baru lagi, akan meninggalkan kita semua.

Seandainya camat baru kita saat ini mampu menanggulangi permasalahan air bersih di Simpang Hilir, saya yakin, Pak Camat akan dikenang warga sebagai camat yang baik, camat yang meniggalkan kenangan-kenangan baik buat masyarakatnya, papar Ustadz Eko dengan nada bercanda, disambut tepuk hadirin.

Ustadz Eko Siswanto Warta Kayong KalbarMenyambung kondisi Ibu Kota Kecamatan sebagaimana disampaikan Abdul Rani. Seperti kita ketahui, kondisi Pasar Teluk Melano saat ini kurang sedap dipandang mata. Pasalnya, pusat perekonomian Kecamatan Simpang Hilir tersebut sudah tidak tertata dengan baik lagi. Penjual sayur-mayur, ikan, daging dan berbagai jenis lauk-pauk lainnya, dilakukan di depan pasar induk. Ini tentu menganggu keindahan pasar. Selain itu, limbah sayur-mayur, ikan dan lain-lain dapat mencemari lingkungan pasar, serta membuat bau tak sedap.

Sementara Pasar Daerah yang ada seperti tak berfungsi. Penjual lebih tertarik berjualan di pinggir jalan raya – depan Pasar Induk Teluk Melano. Padahal, pasar daerah letaknya tidak terlalu jauh dari pasar induk, berjarak sekitar 50 meter saja. Padahal, Pemerintah sendiri telah menyediakan Pasar Buah-buah atau kios-kios baru, agar bisa dimanfaatkan pedagang kaki lima yang ada. Namun, sampai sekarang kios-kios tersebut tidak berfungsi, bahkan berubah fungsi menjadi tempat kegiatan lain.

Pasar Teluk Melano Warta Kayong Kalbar

Melihat kondisi tersebut, perlu penertiban terkoorditatif dari Pemerintah Kecamatan. Sehingga penjualan sayur-mayur dan lauk-pauk di depan Pasar Induk, serta pedagang kaki lima yang memadati jalan menuju ke Pasar Daerah, dapat dipundahtempatkan ke kios-kios yang ada. Mengembalikan penjual ikan dan daging berjualan ke tempat sesungguhnya – pasar daerah yang ada, bukan di pinggir jalan raya atau di depan Pasar Induk yang dapat menganggu keyamanan konsumen/pengunjung● (Has)

Pertama; Acara Ramah Tamah Camat dengan Warganya


Ramah Tamah Camat Simpang Hilir KKU Warta Kayong Kalbar

Pertama, di Simpang Hilir khususnya dan KKU umumnya. Camat yang baru dilantik langsung menyelenggarakan Acara Tatap Muka dan Ramah Tamah dengan warganya.

SIMPANG HILIR – Bertempat di Gedung Gharaha Praja Kantor Camat Simpang Hilir, Kamis (16/1/2014), Mic Novianto, S.H, Camat Simpang Hilir yang baru dilantik, menyelenggarakan Acara Tatap Muka dan ramah Tamah dengan masyarakat Simpang Hilir. Ini merupakan kali pertama dilakukan, sepanjang sejarah setiap pergantian camat, khususnya Simpang Hilir.

Acara yang dihadiri Unsur Muspika Kecamatan, Kepala Desa, Ketua BPD, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat dan Tokoh Pemuda se- Kecamatan Simpang Hilir, terbilang meriah. Pasalnya, setiap unsur diberikan kesempatan menyampaikan sambutan, kesan atau pesan kepada Camat. Hadir juga dalam juga dalam acara tersebut Wakil Bupati Kayong Utara, Idrus berserta istri dan anak tercinta.

Dalam sambuatannya, Mic Novianto memulai dengan salam perkenalan, “Tak kenal tak sayang, tak sayang tak cinta.” Petikan kalimat pembuka yang lazim kita dengar. Kemudian, sebagai Camat, dia tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kerjsama yang sinergis antara Pemerintah dan semua elemen yang ada di masyarakat.

Sebagai kabupaten baru, tentu masih banyak kelemahan dan kekurangan yang perlu kita benahi bersama. Mari kita bergandengan tangan, bahu-membahu membangun KKU. Sehingga tercipta tujuan yang ingin kita capai bersama, ujarnya. Camat defenitif ini berharap, semoga dengan kehadirannya dapat memberikan nuansa baru, membawa Simpang Hilir semakin maju dan disegani kecamatan lain yang ada di KKU.

Tak ketinggalan. Orang Nomor Dua dijajaran Pemerintah Kabupaten Kayong Utara, Idrus, dalam pengarahanya berpesan, agar camat baru mampu mengembalikan kejayaan Simpang Hilir seperti di era tahun1985 – 1995, semasa masih bergabung dengan Ketapang. Sebab, pada era tersebut, Simpang Hilir sangat disegani kecamatan lain yang ada di Kabupaten Ketapang waktu itu, terutama menyangkut administrasi pemerintahan.

Simpang Hilir memiliki potensi yang luar biasa. Wilayah kecamatannya terluas di KKU. Penduduknya terbanyak, SDM-nya maju, serta sumber daya alamnya berlimpah. Merupakan potensi yang patut kita syukuri, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama, ujar Wakil Bupati.

Menghadapi tahun politik, mari kita ciptakan suasana yang kondusif, aman dan terkendalai, lajut Wabup. Perbedaan jangan membuat kita terpecah-belah. Justru perbedaanlah yang menyatukan keberagaman bangsa ini, agar kita bisa saling asah, asih dan asuh. Jangan karena beda partai, beda pilihan, harus baku hantam sesama saudara. Tentu ini tindakan yang konyol. Kita semua bersaudara. Sesama saudara, sewajarnya kita saling mengingatkan untuk kebaikan, imbau mantan Camat Teluk Batang ini menutup pengarahannya.

Mic Novianto, S.H, merupakan camat defenitif, mengantikan Pelaksana Teknis (Plt) Camat Simpang Hilir, Yusrin, yang sekarang kembali ke habitatnya di dunia pendidikan, tepatnya di Dinas Pendidikan Kabupaten. Sedang Sekretaris Camat (Sekcam) sebelumnya dijabat Ravinus Rais, Plt Sekcam, digantikan Sekcam defenitif, Azhari, S.Pd.I● Has

Perselingkuhan KPK


Ilustrasi Inilahcom_warta kayong kalbar

Mengamati pemberitaan di negeri ini, membuat siapa yang tak arif menjadi bingung. Bahkan, dalam taraf yang parah bisa menjadi antipati. Apalagi, sebagian besar masyarakat kita masih menjadikan berita sebagai barang langka. Pasalnya, masalah perut masih mendominasi, ketimbang mengkonsumsi data, angka dan berita yang tak jelas juntrungnya.

Keadaan ini diperparah dengan adanya perselingkuhan pemilik media dengan konten berita. Sehingga, pemberitaan tak lagi obyektif. Semua konten, harus sesuai dengan kemauan pemilik modal. Sehingga, wartawan maupun reporter di lapangan, ‘dipaksa’ untuk mengikuti kemauan pemodal. Apa alasannya? Demi mengenyangkan perut, karena itu perintah kerja, dan seterusnya. Meskipun, kita mengakui, masih banyak awak media yang profesional. Namun, seprofesional apapun, jika konten yang mereka sajikan tak sesuai dengan pemilik modal, mau dipublis di mana? Siapa yang mau mempublis?

Mari, kita sedikit kilas balik. Mumpung masih di pekan pertama tahun 2014. Akhir 2013, semua media diisi dengan pemberitaan Pesta Tahun Baru yang diadakan di Ibu Kota. Mulai dari pendirian panggung, penutupan jalan, informasi transportasi yang dibuka 24 jam, hingga pemimpin tertinggi provinsi itu yang melakukan duet dengan ‘lawan’ politiknya sebelum naik menjadi Jakarta 1.

Pertanyaannya, apakah pentingnya pesta itu? Sebuah gelaran bertajuk ‘pesta rakyat’ di 12 titik panggung, dengan dana 1 milyar dan menghasilkan sampah 200 ton? Jika kita mau berpikir, yang untung siapa? Ya pemodal, ya pemilik panggung, yang makelar petasan, dan pemodal-pemodal lain, termasuk pemilik stasiun televisi dan artis-artis yang hobi cerai itu.

Penjual keliling? Ya, mereka memang untung, tapi hanya sekali dalam setahun. Padahal, seharusnya mereka bisa lebih diberdayakan. Bagi penonton yang berdalih dihibur? Tengok saja, jika perlu lakukan survei, dari sekian juta orang yang datang, berapa yang berhasil bangun Shubuh dan menjalankan dua rakaat tepat waktu?

Tepat setelah pesta tahun baru itu, kita disuguhi dengan Drama Terorisme adegan lama. Ceritanyapun klasik. Banyak kejanggalan. Anehnya, aneka kejanggalan ini tidak dipublikasikan oleh media-media televisi itu. Enam orang ditembak mati. Sementara satu diantara mereka, didapati tidak terdapat luka tembak. Melainkan luka pada salah satu bahu dengan mata yang tercongkel.

Apakah mereka sangat stres sehingga harus membunuh satu demi satu warga yang baru terduga sebagai teroris? Ataukah mereka ingin mendapatkan angpao tahun baru dari Bos Amerika? Yang penting untuk kita ingat, jika kemarin mereka yang ditembak, bukankah suatu ketika, siapapun kita bisa menjadi sasaran tembak juga? Apalagi selama ini sering terjadi ‘salah’ tembak dengan berbagai dalih? Anehnya, berita ini terus menerus diputar, dengan esensi yang tak jelas. Masayarakat awam yang hanya hobi menonton televisi, langsung beranggapan, bahwa mereka adalah teroris. Parahnya lagi, dikaitkan dengan Islam, jilbab, jenggot dan celana cingkrang. Puncak dari drama terorisme ini adalah pelarangan edar buku-buku tulisan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Jadi mirip rezim sekuler saja negeri kita ini. Masih ingat buku Gurita Cikeas? Ada yang tahu nasib buku ini?

Drama ini ternyata tak terlalu seksi. Terbukti, pemberitaan dialihkan ke isu Komersialisasi Doa. Ini lebih aneh. Yang mempunyai program sudah mengakui kesalahan, dan mencabut program itu. Tapi, beliaunya dipanggil terus. Mulai stasiun A, B, dan seterusnya. Pola pemanggilannyapun terus menerus. Mulai pagi, siang, sore hinga malam. Yang menggelikan, jenis pertanyaannya sama.

Berita komersialisasi doa ini tidak berlangsung lama. Karena Drama Terorisme masih sedikit cerita. Sayangnya, sutradara salah perhitungan. Drama ini tak begitu diminati, sehingga pemberitaan beralih ke Dagelan Kenaikan Harga Gas. Ini lebih garing, kawan!

Begini, sebelum menaikkan harga, Pertamina seharunya berkoordinasi dulu dengan Menteri BUMN dan Pak Presiden. Lantas, Pertamina baru mengumumkan kenaikan. Kenaikanpun diumumkan, dengan harga yang melangit. Lantas, di hari libur, Pak Presiden mengadakan Rapat Terbatas. Temanya, agar Pertamina meninjau kembali kenaikan harga gas lantaran memberatkan masyarakat. Bahasanya manis sekali, “Kemarin, Kami kurang koordinasi.” Sang Menteri pun mengangguk, dan hari berikutnya, harga LPG tetap naik meski tak semelambung sebelumnya.

Jika kita mau mengamati sedikit lebih seksama, nampaknya strategi yang dijalankan sangat kentara maksudnya. Ada yang bilang pencitraan di pemilu mendatang, ada yang bilang menaikkan pamor partai pemimpin, dan seterusnya. Jika saya boleh memilih, maka saya memilih mengamini pendapat Glen Fredly dalam Mata Najwa Rabu malam kemarin, “Keberhasilan Presiden dalam dua periode ini ya bikin album.” Tentu, kita tidak menafikan kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan, dan semoga menjadi kontribusi bagi bangsa ini.

Selanjutnya, yang paling baru, adalah Humor Perselingkuhan KPK. Ini berita juga menyedot media-media televisi untuk meliputnya. Saya ingin mengatakan, sebelum anda menghakimi, bahwa saya tidak sedang melawan KPK, saya malah menginginkan agar KPK lebih profesional dan tidak tebang pilih. Karena, dalam pandangan saya yang tak pandai ini, banyak kejanggalan yang kemudian dibela oleh banyak pihak.

Begini, Nazaruddin diburu sampai Kolombia. Ada yang tahu berapa dana yang digunakan dalam perburuan itu? Dari Nazaruddin disampaikan pengakuan bahwa Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum terlibat. KPK menetapkan keduanya sebagai tersangka. Anehnya, kenapa Andi dan Anas tidak dijemput untuk ditahan? Apakah dana untuk menjemput keduanya lebih besar dibanding dana yang digunakan untuk menjemput Nazaruddin di Kolombia? Apakah keberadaan keduanya lebih tersembunyi dibanding keberadaan Gayus Tambunan yang sempat jalan ke mana-mana sebelum akhirnya ditangkap?

Hingga kini, Andi sudah ditangkap. Tapi, Anas masih berkeliaran. Sudah dua kali dipanggil, dan Anas selalu menolak hadir. Banyak pihak yang kemudian meminta agar Anas kooperatif, ada juga yang mendukung agar Anas ‘melawan’ ketidakadilan KPK. Pemberitaan ini semakin gelap ketika ada yang mengatakan bahwa sebelumnya, salah satu ketua KPK mendatangi Cikeas dengan Wamen Dani Idrayana.

Humor ala KPK ini, semakin menunjukkan bahwa KPK tidak mempunyai prosedur yang jelas. Salah satunya, ada perbedaan perlakuan. Sama-sama dinyatakan tersangka oleh KPK, tapi beda perlakuan. Ada yang dijemput paksa, padahal baru terduga. Ada yang dicari hingga keliling dunia, ada yang dibiarkan di rumahnya bahkan sampai membuat organisasi baru, ada yang diperiksa di rumahnya karena punya jabatan dekat dengan pemimpin, dan seterusnya.

Lantas, mereka juga terkutat dalam kasus-kasus yang bukan esensi. Lebih asyik kepada kasus kecil. Sedangkan kasus besar yang menyeret pejabat negara, mantan menteri, dan pejabat lain, seakan tidak disentuh. Aneka dalih diberikan, aneka alasan disampaikan. Baik yang logis maupun tidak. Parahnya, sisi tendensius KPK ini semakin terasa.

Sebut saja satu contoh, ketika Ridwan Hakim akan diperiksa sebagai saksi. Anehnya, Ridwan Hakim diberitakan sebagai anaknya siapa, bapaknya dari partai apa. Padahal, tak ada kaitannya. Belakangan, ketika Ridwan Hakim bersaksi bahwa dia belajar bisnis dengan Bunda Putri ataupun Seng Man, KPK mandeg. Padahal, menurut banyak sumber Bunda Putri dan Seng Man ini dekat dengan Cikeas.

Sebelum itu, ketika Ridwan Hakim akan diperiksa, dia sudah dimasukkan dalam daftar orang yang tidak diijinkan pergi ke luar negeri. Sementara itu, Menteri Sri Mulyani yang nyata ‘kontribusi’nya dalam Mega Skandal Century, tidak dicekal ketika akan pergi ke Amerika dalam menjalankan tugasnya sebagai salah satu direktur IMF. Sampai sekarang, KPK juga terkesan tidak menyentuh Sri Mulyani, mungkin karena bukan muhrim. Karena sentuhan dengan bukan muhrim, termasuk dalam dosa.

Akhirnya, ini hanyalah oret-oretan sederhana. Jika benar, silahkan diambil. Kalau salah, mohon dimaafkan. Yang ingin kami sampaikan, jangan sibuk dengan pemberitaan media yang tidak jelas keberpihakan dan latar belakangnya. Lebih baik, mulai sekarang, kita berupaya untuk mengikuti apa yang disarankan oleh Sayyid Quthb agar kita menjadi media bagi diri kita masing-masing. Jangan lupa juga, One Day One Juz.
Salam sepenuh cinta, semoga kita tetap bahagia. [Pirman]

Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2014/01/perselingkuhan-kpk.html

%d blogger menyukai ini: