KISAH SEDIH NELAYAN KELONG PULAU PEPALIS “ Sebuah harapan yang tak kunjung Padam “


“Atta sedang berada di kelongnya “

Pulau Pelapis Kecmatan Kepulauan Karimata terkenal dengan hasil ikan terinya.  Nelayan di sini rata rata kompak mencari ikan teri dengan cara yang sama yakni menggunakan cara tradsional dengan membuat semacam bagan atau jermal di laut, namun di sini mereka menamainya “Kelong”.

Ternyata ikan teri yang kita nikmati dengan rasa gurihnya tak sebanding dengan perjuangan para nelayan Kelong pulau pelapis yang penuh perjuangan untuk mendapatkannya. Mereka rela tidak tidur semalaman untuk mencari ikan teri ini.

Dari mulai sore hari para nelayan kelong di pulau pelapis harus sudah berkemas untuk pergi ke “kelong”, saat sudah sampai mereka menghidupkan lampu lalu menurunkan waring dan menunggu ikan masuk. Setelah semua ikan berkumpul lalu mereka mengangangkat waring  kemudian pergi ke darat untuk mengolah dengan cara di kukus, kemudian setelah itu kembali lagi ke kelong, dan begitulah seterusnya hingga pagi hari.

Herman (34 tahun) , salah seorang warga pelapis yang berprofesi sebagai nelayan kelong mengishkan kehidupan nelayan di Pelapis dengan mengandalkan Kelong sebagai penghasilan utamanya. Namun di musim tertentu menurut Herman para nelayan tidak bisa melakukan aktivitas di laut termasuk di kelong, karena musim yang ganas.

“ biasanya bulan 7 sampai bulan 9 kita nganggur tidak bisa ke laut, dan saat itulah kami menyebutknya musim paceklik, saat saat seperti itu untuk mencari makan saja susah”. Tutur Herman

Kelong yang di buat oleh masyarakat pelapis sangat sederhana,  berupa beberapa buah pancang kayu nibung dan kayu lokal serta peralatan tangkap berupa jaring dan mesin genset, namun walau seperti itu modal yang di keluarkan tidaklah sedikit, jika membuat dari awal bisa mengejar puluhan  juta dengan sampan dan mesinnya.

Datok udin 70 tahun, sebagai warga pelapis yang sudah lanjut usia namun tetap melakukan aktivitas di laut juga menuturkan bila Nelayan kelong di pelapis saat ini belum pernah mendapat bantuan untuk mendukung usaha mereka.

Menurut datok Udin untungnya mereka di pelapis mempunyai bos atau yang biasa mereka sebut “ Tauke”. Dari tauke inilah mereka dapat modal untuk berusaha membuat kelong, akan tetapi hasil dari usaha kelong tersebut kebanyakan hanya habis habis untuk membayar hutang.

“ jadi tidak ada sejarahnya kami ini bisa kaya raya dari kelong, cukup untuk makan saja sudah syukur karena hutang kami dengan tauke ini biasanya lebih banyak, maka kalau dapat ikan teri dari kelong dengan jumlah banyak kami sangat senang karena bisa untuk  membayar hutang dengan tauke “. Ungkap datok Uddin.

Atta 31 tahun, salah seorang nelayan kelong saat kami temui di Kelongnya juga berkisah bila angin ribut kadnag juga badai tiba tiba terpaksalah mereka pulang dengan hasil kosong. “ pernah pada tahun 2013 terjadi angin ribut semua nelayan di pelapis rata rata merugi karena kelongnya habis di terjang angin dan badai “. Ungkap atta.

Untuk berjuang bertahan hidup itulah yang di lakukan nelayan pelapis, mereka bertahan di tengah ganasnya alam dan bertahan demi sebuah asa dan haraoan yang tak pernah padam demi kehidupan yang lebih baik . berikut mari kita saksikan film Dokumenter tentang kehidupan masyarakat pulau pelapis, semoga bermanfaat.  ( MH 30 – 10 – 2019 )

Posted on 30 Oktober 2019, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: