Mitos “LELABI PUTIH” Penunggu Sungai Jambu Dan Pantangannya


Muara air Sungai Jambu berasal dari lubuk Gerunggang yang terletak di hulunya. Menurut kepercayaan warga di hulu sungai jambu ada  beberapa penunggu,  sungai selain dari lelabi putih ( kura kura ), ada juga orang kebenaran ( jin ), dan makhluk ghaib yang lainnya.

Konon Sungai Jambu di masa lalu adalah kampung tua, bahkan di era Presiden Soeharto kampung ini pernah menjadi Desa, sebelum di adakan penyatuan dengan wilayah Desa Nipah Kuning hingga saat ini.

Kala itu Kecamatan simpang hilir sebagai bekas swapraja yakni bekas pemangku kerajaan simpang , yang masih membawahi beberapa wilayah yang saat ini menjadi kecamatan , yakni Teluk batang dan Seponti. Jalan Sungai jambu masa itu adalah jalan yang serring di lalui, karena jalan besar yang saat ini menjadi jalan provinsi masih sepi dan belum di bangun jembatan .

Pada masa masa itu Sungai jambu pernah berjaya, dimana salah satu penghasilan masyarakat berasal dari kebun, bercocok tanam serta hasil hutan. Karena sungai menjadi salah satu jalur yang penting sebagai mobilisasi, maka sungai di kampung sungai jambu di masa itu cukup lebar dan bersih.

Pada masa masa tertentu warga di wajibkan bergtong royong yang koordinir oleh “Kepala parit “, maka atas hal tersebut warga di masa itu sangat menjaga kebersihan sungai. Wajar jika di masa itu sungai selalu bersih dan lebar, bahkan menurut penuturan Agus sebagai warga sekaligus anggota BPD Desa Nipah Kuning membenarkan  bahwa sungai Jambu di masa itu bisa di masuki perahu sedang dari arah laut.

Selain percaya dengan  beberapa penunggu di  sungai tersebut, warga sungai jambu juga percaya jika mereka melanggar pantangan di sana, maka kesimbangan alam akan terganggu, seperti penyakit yang mewabah, kekeringan dan balak bencana serta yang lainnya.

Menurut tok Ngah Talib yakni seorang dukun kampung di sungai jambu yang masih hidup hingga saat ini, ada Beberapa pantangan yang tidak boleh di langgar oleh siapapun yang berkaitan dengan aktivitas warga di sungai di antaranya adalah;  tidak boleh merusak sungai dengan cara meracun, atau sejenisnya.

Bila melanggar pantangan itu maka beberapa penunggu seperti Lelabi putih atau yang lain akan muncul, maka jika mahluk tersebut sudah muncul, niscaya kampung tersebut di percaya akan di kutuk dan terkena balak dan bencana.  Adapun bencana tersebut bisa berupa apa saja, dari mulai banyak warga yang sakit, kekeringan, bencana api dan lain sebagainya.

Pantangan tersebut menurut tok ngah Talib sebenarnya jika di kaji akal bukan tanpa alasan, sebab masyarakat Sungai Jambu sering menggunakan sungai sebagai aktivitasnya sehari hari, dari mulai mandi, mencuci bahkan jika dahulu orang sering menggunakannya untuk air minum. Air sungai Jambu memang bernah merah kehitam hitaman, begitulah ciri khas dari air gambut, namun demikian  air tersebut bersih dan biasa di konsumsi oleh masyarakat di masa lalu.

Melalui tutur dan mitos yang berkembang di masyarakat tersebut maka lembaga simpang mandiri melakukan riset dan mencoba menggarap sebuah film pendek bergenre fiksi dengan Tema besar Menjaga dan mengajak mengembalikan kejayaan kehidupan sungai di masa lalu dengan judul “ NIRMALA “.

Dalam film ini menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat sungai jambu di masa kini dengan kisah masa lalu tentang kejayaan sungai di masanya. Karena seiring dengan perkembangan zaman, maka sungai tak lagi seperti dahulu, keseimbangan mulai terganggu dan saat ini warga juga sudah merasakan dampaknya.

Dari sosok anak muda bernama Usman dan Nirmala, sang sutaradara dalam film Nirmala ini mencoba memberikan pesan bahwa ke dua sosok tersebut mengajak kepada masyarakat secara luas, bukan hanya masyarakat sungai jambu bahwa sungai adalah kehidupan yang penting.

Maka pesan yang ingin di sampaikan sutaradara ( Kushariyanto ), bahwa “ mari jaga sungai kita dari kerusakan”. Terlepas dari mitos serta aturan dan pantangan bahwa sungai adalah salah satu denyut nadi kehidupan yang harus di jaga.

Lalu kenapa film ini berjudul “NIRMALA “, pertanyaan ini akan terjawab bila para pembaca akan menonton film ini nanti, tentunya tidak perlu lama lama karena di tahun 2019 ini akan tayang.

Film bergenre Fiksi dengan bumbu komedi, romatisme dan horor ini semoga tidak mengecewakan karena walau menggunakan dana swadaya, Tim produksi akan semaksimal mungkin memberikan suguhan yang apik buat para pembaca yang budiman  dimanapun berada, Terima kasih dan selamat menantikan .

WK Team

 

Posted on 5 Oktober 2019, in adat budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: