Kisah “Dungun Kapal” Saksi Bisu Kesaktian Raja Gusti Panji Kerajaan Simpang Sebelum meleutusnya Perang Bulang kait


*Awal Mula Perang Bulang Kait .

GB : Pohon dungun di sungai simpang , sumber Kayong TV . 

Pada masa Panembahan Gusti Panji terjadi Perang bulangkait atau lazim di sebut Belangkait sebagai akibat adanya pertentangan dengan penjajahan Belanda. Perang ini bermula dari gagalnya Belanda membujuk Panembahan Gusti panji untuk menandatangani Kontrak Pendek  atau yang juga di kenal dengan nama (Korte Verklaring).

Akibat kegagalan tersebut Belanda murka, lalu mereka dengan armada lengkap masuk menyisir   hulu sungai simpang guna menjumpai Gusti Panji di istananya. Gusti panji masih bersikukuh tidak mau melakukan perundingan terhadap Belanda penandatanganan.

Akhirnya Panembahan Gusti Panji di ditangkap paksa hingga di naikan ke kapal Belanda. Awalnya para kerabat kerajaan ingin melakukan perlawanan  Namun di cegah oleh Gusti panji, dan di luar dugaan gusti panji mengajukan syarat kepada Belanda agar dapat menimbang tubuhnya serta mengimbangi kapalnya, namun serdadu belanda dengan sombong menertawakannya.

“ Tuan dokoh silahkan naik ke kapal “. Ungkap salah seorang serdadu belanda

“ Baiklah, Timbang tuan, timbang tuan, saya mau naik ke kapal “. Ungkap gusti panji sambil melangkahkan kaki menuju tangga kapal dengan mesin yang menderu deru.

“ hahhahahha…jangankan badan Tuan yang kecil, lihatlah kami badan kami “.. ungkap serdadu belanda tersebut sombong.

Tanpa menghiraukan serdadu yang sombong itu, Gusti panji terus melangkah menuju geladak kapal belanda, dan tiba kapal belanda yang kokoh itu miring sebelah. Dengan keadaan tersebut para serdadu belanda terus memaksakan untuk membawa sang panembahan dengan maksud jahat.

Namun  baru beberapa tanjung kapal serdadau itu semamin parah, kemudian menabrak pohon dungun yang hidup di tepian sungai simpang,  dengan terpaksa kapal tersebut mendarat di  dekat batang pohon dungun yang besar. Pohon dungun itu disebut penduduk simpang hingga saat ini dengan nama “Dungun Kapal”.

Serdadu belanda akhirnya pulang dengan tangan kosong, mereka tidak berhasil membujuk dan menawan Panembahan, maka Belanda memaksakan sendiri isi Kontrak Pendek itu dengan memaksa rakyat agar membayar pajak (blasting).

Pemaksaan inilah yang membangkitkan semangat rakyat untuk menentang penjajahan yang dipimpin oleh seorang Patih dari Kampung Sepuncak  bergelar Hulubalang I yang bernama Abdusamad atau di kenal dengan nama “Ki Anjang Samad” dengan semboyannya “lebih baik mati dari pada membayar belasting”.
Panembahan Gusti Panji bersama Ki Anjang Samad lalu turun ke kampung-kampung membakar semangat rakyatnya untuk melawan penjajahan. Panglima  simpang lain yang ikut berperang adalah, Ki Julak laji, Mok rebi, Khatib Prebe dan lain lain.

Dalam keadaan yang sudah siap perang datanglah sepasukan suku Dayak dari hulu Tumbang Titi utusan dari Uti Usman (pemimpin perang Kedang di Tumbang Titi  hulu Ketapang). Pasukan itu dipimpin Panglima Ropa dengan membawa serta Panglima Ida, Gani, Enteki, Etol, ropa, dan Panglima Gecok.

GB : Dokumen perang bulang kait sumber DNA kurnia 

                Sesua dengan dokumen kliping media Belanda pada masa itu yang di inventarisasi oleh DNA Kurnia Ketapang, jelas dalam dokumen tersebut bahwa pergerakan Perang bulangkait bermula pada bulan Januari tertanggal 1 tahun 1912 yakni di mulai di kampung rangkap.

Di mungkinkan dari kampung rangkap awal pasukan belanda di serang lalu menghulu ke simpang melewati beberapa kampung lain di tiap sungai simpang pasukan lain sudah di siap siagakan. Dalam perang tersebut ki Anjang samad gugur lalu di teruskan dengan para panglima yang lain .

Perang berakhir pada tahun 1920 saat gusti panji meninggal dunia. Sepanjang tahun 1912 hingga tahun 1920 banyak terjadi dinamika, termasuk siasat politik jahat belanda mengadu domba serta pemindahan kekuasaan dari simpang ke Teluk melano dan lain lain .

 

Sumber dan Referensi :

  • Penuturan lisan Raden Jamrudin dari film Jejak Cagar Budaya Kayong Utara,
  • Penuturan lisan Raden Jamhari dari film Jejak Cagar Budaya Kayong Utara
  • Penuturan lisan Isnadi pemerhati Muda Sejarah Simpang
  • Buku Menapak Tilas kerajaan Tanjung pura Karya Alm. Gusti Muhammad Mulia
  • ( DNA Kurnia ) Agus Kurniawan Penulis Sejarah dan sastra Ketapang Kalimantan Barat.
  • Serta referensi yang lainnya

ATAS Nama Pribadi Penulis haturkan terima kasih kepada semua nara sumber yang menjadi salah satu simpul pelestari nilai sejarah dan tradisi budaya saat ini, khusus untuk Alm. Gusti Muhammad Mulia kita kirim hadiah Fatihah buat beliau .. Al Fatihah… 1 x.

 

SALAM BUDAYA

MIFTAHUL HUDA

Posted on 25 April 2019, in sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: