Effendi Ahmad, S.Pd.I, M.Pd.I. KKU Belum Siap Terapkan Full Day Scool


 

Menyikapi keputusan pemerintah  tentang Full Day Scool (FDS), sebagai orang yang memiliki disiplin ilmu pendidikan, Effendi Ahmad angkat bicara. Menurutnya, untuk KKU belum layak menerapkan FDS.

Alasan Yong Pen (Effendi Ahmad), KKU belum siap dengan fasilitas atau sarana untuk menunjang FDS tersebut. Misalnya fasilitas makan anak-anak, tempat istirahat dan penunjang lainnya, KKU belum siap.

Yong Pen juga tidak ingin FDS akan menganggu/mematikan diniyah (TPQ). Karena rata-rata diniyah di KKU khususnya, aktivitasnya sore hari, antara pukul 14.00 – 17.00. Dan diniyah tersebut rata-rata diikuti oleh pelajar.

Menurut Yong Pen, FDS sesungguhnya ialah pesantren. Kenapa pesantren? Karena di pesantren anak-anak dipondokan/diasramakan, dengan mengikuti pendidikan dari pagi hingga malam. Dan metode/sistem ini sudah berjalan jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebab, FDS yang efektif itu ada asramanya.

Disisi lain, jika FDS diterapkan di KKU, akan mengundang reaksi dari masyarakat, terutama ekonomi menengah ke bawah. Mengapa? Karena banyak diantara anak-anak usia SMP/SMA, setelah selesai belajar membantu orang tuanya bekerja. Jika mereka ful sekolah, Yong Pen khawatir minat anak sekolah. Atau minat orang tua menyekolahkan anaknya kembali menurut.

Pernyataan Yong Pen beralasan. Sebelum program pendidikan gratis ada di KKU, angka putus sekolah cukup tinggi di KKU. Alasan utamanya karena ekonomi orang tua yang terbatas, selain kesadaran dan motivasi. Karena belumnya, pendidikan berbiaya, khususunya SMA.

Yong Pen tak ingin, minat anak atau orang tua menyekolahkan anak-anaknya  kembali menurut. Untuk sekarang saja, animo masayarakat menanggapi rencana FDS tersebut beragam. Sebagaian besar orang tua keberatan dengan FDS terrsebut.

“Untuk KKU belum siaplah FDS diterapkan, kecuali di kota-kota besar. Bisa saja di KKU diterapkan, jika ada sekolah yang siap. Tapi saya pikir belum siaplah,” kata Yong Pen.

Disamping itu, banyak juga masyarakat yang menyampaikan keberatannya melalui media sosial. Bahkan ada yang sampai viral di medsos.

“Kalau anak-anak kami sekolah dari pagi sampai sore. Pulang ke rumah harus mengerjakan tugas sekolah dan tugas lainnya hingga malam hari. Kapan anak-anak kami harus istirahat?” ungkap salah seorang pemilik akun facebook belum lama ini yang viral.

Bagi Yong Pen, lebih baik KKU fokus pada perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan yang ada. Membenahi sarana, prasarana atau fasilitas pendidikan yang masih banyak kekurangannya. Memperhatikan nasib dan kesejahteraan guru-guru . Terutama guru honorer, guru di daerah terpencil (kepulauan dan pedalaman). Seingga tidak ada lagi keluhan yang dapat menganggu proses pendidikan di KKU. (Ham/Has)

Posted on 6 Desember 2017, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: