Lulus UN, Haruskah Kita Pestakan?


Pesta Lulus UN,warta kayong kalbar

Oleh: Hasanan

Tinggal menghitung hari saja. Pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) 13 – 15 April 2015 tingkat SMA sederajat, akan segera dihelat pemerintah. Kendati hasil UN tidak mempengaruhi kelulusan, namun ending yang diharapkan pemerintah, terukurnya intergritas ujian tersebut.

Intergritas UN sepertinya masih mimpi. Pasalnya, kendati hasil UN tidak menentukan kelulusan, bocornya soal/kunci jawaban UN, masih menghiasi wajah pendidikan negeri ini. Tentu intergritas ujian yang diharapakan, adalah PR yang masih perlu mendapatkan jawaban.

Di duga, oknum pegawai percetakan soal UN, telah membocorkannya melalui dunia maya. Betul polisi telah mengusut percetakan atau pelaku pembocoran soal UN. Tetap saja, kasus seperti ini saban tahun berulang. Modusnya saja yang berbeda, tapi esensinya sama.

Baru-baru ini, publik pun dikejutkan dengan berita beredarnya undang pesta kelulusan memakai bikini, melalui You Tube. Undangan terbuka tersebut mencantumkan nama penyelenggara, tempat dan alamat penyelenggaraan pesta. Yaitu, berlokasi di kolam renang salah satu hotel di Jakarta Pusat. Syukur, itu belum terjadi. Namun, ini perlu diantisipasi.

Lagi-lagi, wajah dunia pendidikan dicoreng oleh orang-orang yang ingin meraup keuntungan, dengan memanfaatkan momen. Bagi mereka (pelaku), tak penting itu etika ketimuran, etika agama. Asal mereka dapat keuntungan, apapun bisa dilakukan.

Mungkin, pendidikan budi pekerti selama ini belum memberikan efek positif bagi anak didik, atau kita sendiri? Ataukah pengaruh globalisasi lebih tinggi peranannya ketimbang budi pekerti? Atau, karena alasan materi yang menyelimuti peradaban bangsa ini, sehingga unsur-unsur pendidikan terabaikan? Entalah…. Yang pasti, kita lebih banyak mengubur etika demi harta atau tahta.

Rencananya, 18 Mei 2015, secara resmi, pemerintah akan mengumumkan kelulusan peserta UN. Sebentar lagi, mungkin, kita akan menyaksikan tontonan pesta kelulusan yang sesungguhnya. Akan ada pesta coret-coretan segaram sekolah. Pesta pawai kebut-kebutan di jalan raya, dan pesta-pesta lainnya. Semoga, dugaan penulis ini salah.

Pesta Lulus UN, warta kayong kalbar 2

Sob…. Coba sejenak kita bertanya pada hati kecil kita! Pantaskah budaya ini harus kita pertahankan? Besarkah manfaat yang bisa kita dapatkan, jika acara ini kita lakukan? Bisa jadi, kita hanya memetik mudharatnya, ketimbang manfaatnya. Bahkan, nyawa kita pun jadi taruhannya, apabila kita mengendarai kendaraan tak beraturan, terlibat narkoba dan sebangsanya.

Sekiranya tidak tepat, jika kita mensyukuri kelulusan dengan cara-cara demikian. Euphoria (kegembiraan) lulus UN tak mesti diluapkan dengan cara mencoret pakaian, kompoi tak karuan, atau pesta-pesta yang menyesatkan. Masih banyak cara-cara syukur yang bermanfaat dan bermartabat.

Cara-cara seperti itu bukanlah ungkapan rasa syukur kita atas kelulusan yang kita peroleh. Tanpa kita sadari, ini adalah bentuk kezaliman atas diri kita sendiri, orang tua dan masyarakat.

Tanpa pertolongan dan restu Tuhan, kita tidak ada apa-apanya. Jangan saat menjelang ujian, kita ingat berdoa dan bermunajat kepada Tuhan. Tapi, setelah menerima amplop kelulusan, kita malah kufur dan tidak bersyukur kepada-Nya.

Andai saja seragamu diberikan kepada orang-orang yang memerlukan. Seperti anak yatim, pakir dan miskin misalnya, tentu akan lebih besar manfaatnya, kan sob? Dan tentu ini bernilai pahala bagi kita yang mengaku beragama. Lalu, kenapa kita tidak menjadi pelopornya sob? Orang-orang akan menaruh simpatik dan hormat padamu. Tapi jika harus mencoret pakaian, kompoi kebut-kebutan di jalan dan sebagainya, bukannya simpatik yang kita dapatkan , malah sumpah dan cemoohan.

Perlu kita ketahui sob. Banyak dampak negatif dari pesrta-pesta kelulusan di atas, jika kita lakukan. Pertama, moralitas kita dan dunia pendidikan kita dianggap jatuh. Bisa pula orang berasumsi, bahwa ini merupakan ketidakberdayaan atau kelemahan orang tua kita, guru, pemimpin atau kita dalam dunia pendidikan. Padahal, orang tua, guru dan pemerintah tidak pernah menghendaki itu.

Dan, tidak semua rekanmu sepakat dengan budaya yang tidak memiliki pesan moral ini. Tapi, ketika temanmu tidak ikut-ikutan dalam pesta kelulusan, kadang kalian cap ia anak kampungan. Padahal pilihan temanmu, pilihan berlian.

Kedua, bisa membentuk kita menjadi angkuh, amoral (tidak bermoral), ego dan takabur dengan rejeki dan nikmat yang dianugrahi Tuhan kepada kita. Pasalnya, kita diberi rejeki, pakaian baik bukannya bersyukur, tapi malah merusaknya. Dengan sombong kita pamer kelulusan. Bersegaram berlumuran cat dan spidol kita pamer ke publik atau orang tua kita. Lulus ujian itu bukan untuk dipamerkan, tapi harus disyukuri.

Ketiga, bisa membuat kita berpikir instan, praghmatis dalam berpikir dan bertindak. Atau mendidik kita menjadi manja dan cengeng. Sebab kita merasa, harta (seragam) tersebut bukanlah hasil dari keringat dan kerja keras kita. Namun pemberian orang tua atau pemerintah. Sehingga menyebabkan kita jadi malas, culas dan tergantung pada orang lain.

Keempat, menghilangkan semangat kebersamaan (solidaritas) atau kepekaan sosial kita terhadap orang lain. Andai saja kamu dan temanmu sepakat, seragam tersebut dikumpulkan dan dihibahkan kepada orang atau anak yang tidak mampu, itu jauh lebih berharga. Dibandingkan pakaian tersebut harus kalian dicoret, disimpan menjadi barang bekas atau kain lap.

Kelima, sadarkah kita sob, bahwa kita telah melunturkan norma-norma agama, sosial, adat dan budaya luhur bangsa kita. Sehingga kita lebih agresif dan arogan dalam bertindak.

Pesta kelulusan UN, warta kayong kalbar 3

Lalu, bagaimana sikap baik kita menyikapi kelulusan ujian tersebut? Perlukah pesta atau sejenisnyan kita lakukan? Pesta dalam tanda kutip, bisa saja kita lakukan. Dengan catatan, tentu tidak bertentangan dengan budaya dan norma yang ada.

Tapi jika pesta kelulusan yang kita maksud adalah coret-coretan seragam. Apa lagi harus pesta mabuk-mabukan, kebut-kebutan, narkoba dan jenis kejahatan lainnya. Lebih baik kita pikir ulang, sebelum semua itu jadi bumereng. Dan ini bukanlah cara bersyukur yang pantas dan dianjurkan. Dampak negatifnya akan lebih besar, ketimbang positifnya.

Jalan hidup kita, insya Allah masih panjang sob. Alangkah bijaknya, jika masa muda ini kita isi dengan prestasi, kreativitas dan hal-hal postitif lainnya. Sebab, penyesalan itu datangnya selalu terlambat kan sob? Jadi, sebelum penyesalan itu menghantui kita, alangkah baiknya kita pikir ulang sebelum bertindak.

Rencanakan masa depanmu! Karena rencana adalah setengah dari keberhasilan. Setalah memiliki rencana, berusahalah mewujudkan rencana tersebut, dengan segala rintangan dan tantangnya. Sehingga kamu berhasil dan menjadi orang yang tangguh dalam segala situasi.

Semoga kelulsan UN tahun ini, kita tidak menemukan lagi pesta-pesta yang sedang kita bicarakan. Jika terselip rencana diantara mereka (siswa) melakukannya, sebagai orang tua, guru dan orang-orang yang peduli, jangan pernah bosan untuk mengingatkan. Ada langkah-langkah antisipasi yang harus kita lakukan. Jika itu tetap terjadi, setidaknya ada tindakan dan ketegasan yang bisa kita lakukan. Semoga.

Sumber Photo: https://www.google.co.id/search?hl=id&site=imghp&tbm

Posted on 26 April 2015, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: