Memetik Hasil Mengayam Ambung


*Pedareng.

(pedareng), Ramli, sedang melakukan uji kekuatan ambung hasil buatannya

 

(pedareng), Ramli, sedang melakukan uji kekuatan ambung hasil buatannya

Ramli, 48 Tahun, merupakan pengrajin ambung (sejenis keranjang red) asal Batu Teritip dusun Mentubang desa Harapan Mulia kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara (KKU), Provinsi Kalbar. Usaha ini sudah digelutinya sekitar lima tahun silam.

Keunikan ambung, karena cara membawa dengan ditopang di belakang dengan menggunakan tali kepuak (serat kulit kayu) yang dipasang di kanan-kiri bahu. Kemudian satu tali menempel di kening. Tumpuan beban bawaan ambung ada di kepala. Bahasan lokal menyebutnya, didukong atau diamben.

Dengan memanfaatkan hasil hutan, seperti rotan dan bambu yang ada di sekitarnya, tangan terampil Ramli berhasil merajut bambu dan rotan tersebut, menjadi ambung yang bernilai ekonomis. Pasalnya, untuk mengangkut pisang, durian dari gunung dan padi dari sawah, warga memerlukan ambung. Tak hanya untuk keperluan itu saja, ambung termasuk sarana angkut yang multiguna.(pedareng) Ramli sedang meraut rotan sebagai bahan dasar membuat ambungnya

(pedareng) Ramli sedang meraut rotan sebagai bahan dasar membuat ambungnya

Untuk ambung berbahan utama bambu, butuh waktu tiga hari pengerjaannya hingga rampung. Sedangkan berbahan dasar rotan, rata-rata butuh waktu lima hari. Waktu tersebut terhutung mulai dari mengambil dan membersihkan bahan, hingga siap dianyam.

Ketika ditanya, beberapa setiap buah ambung Ramli dihargai? Ramli menjelaskan, Ambung bambu berukuran besar dihargai Rp140 ribu dan kecil Rp80 ribu. Sedangkan ambung berbahan dasar rotan, ukuran besar dihargai Rp200 ribu dan kecil Rp150 ribu. Jika dikalkulasi, dalam sehari penghasilan rata-rata Ramli, yatu Rp20 ribu.

Kadang, untuk memenuhi permintaan warga sekitar saja, Ramli kewalahan melayaninya. Karena, hasil anyanaman Ramli berkualitas baik, tahan lama, dan dapat dinaiki orang ukuran dewasa. Sebab itu, warga memesan dengannya. Pengrajin yang lain bukan tidak ada, tapi kualitas anyaman Ramli sudah teruji menurut warga. Dan Ramli sangat menjaga kualitas barangnya.

Untuk meyakinkan WK akan kekuatan ambungnya, Ramli melakukan tes menaiki ambungnya. Benar saja, ambung Ramli sangat kuat menopang beban berat. Tinggal kemampuan kita saja, mampu membawa beban seberat apa.

Dari kreativitas Ramli ini, dia mengaku, bahwa hasilnya termasuk menjadi pundi-pundi pemasukan keluarga. Setidaknya, menjadi penghasilan tambahan bagi ekonomi keluarganya.

Ramli bersyukur, karena alam di sekitar tempat tinggalnya menitipkan berkah luar biasa, yang harus tetap di jaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Karena itu Ramli berpesan ke generasi penerus. Menuntuk ilmu tidak hanya di bangku sekolah saja. Dengan alam dan masyarakat pun, banyak ilmu yang bisa kita dapat. Kuncinya, jangan malas jika tidak ingin terlindas! (HASANAN)

Posted on 29 Maret 2015, in kreativitas and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: