Pesan Penjaga Gunung Tujuh


???????????????????????????????

Gunung Tujuh terletak di Kecamatan Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.  lokasinya tepat berbatasan dengan desa Sungai Paduan, Teluk Batang, dan Alur Bandung.

Disebut Gunung Tujuh, sebab ada tujuh mungguk atau bukit yang menyerupai gunung berjajar, mulai dari mulai laut Alur Bandung. Kemudian, Sungai Paduan hingga terakhir di Teluk Batang. Gunung pertama di Alur Bandung disebut orang bernama Gunung Lumut. Dari Gunung Lumut itulah ditarik hitungan pertama hingga gunung yang ketujuh.

Jikalau kita melihat dari arah laut Alur bandung ataupun pantai Tanjung Pandan—Pulau Kumbang, maka akan terlihat jelas tujuh bukit berjajar dari laut hingga ke arah Teluk batang.

Al kisah pada Zaman dahulu, hiduplah seorang pertapa sakti di Gunung Tujuh yang bernama Datok Murip. Diyakini karena ilmu yang dimilikinya maka Datok Murip tidak memiliki keturunan. Kesaktian Datok Murip adalah dapat melakukan komunikasi dengan bangsa jin serta penunggu yang berada di Gunung Tujuh.

Pada zaman itu Datok Murip sekaligus di angkat menjadi ketua adat atau dukun kampung setempat di wilayah sekitar Gunung Tujuh. Karena tidak memiliki anak maka Datok Murip mengambil anak angkat yang bernama Deri. Sebelum Datok Murip meninggal, Ia sempat menurunkan ilmu pada Deri anak angkatnya guna meneruskan perkara adat yang biasa ditangani dukun kampung.

???????????????????????????????

Begitu juga Deri, tidak memiliki keturunan. Akhirnya mengambil anak-angkat juga yang bernama Basir. Lewat Basir inilah di kemudian hari Deri juga menurunkan ilmu kesaktiannya.

Deri merupakan Dukun Kampung cukup terkenal karena kesaktiannya. Pernah suatu ketika saat ada orang hilang. Lalu ia melakukan ritual di sekitar lokasi hilangnya orang tersebut. Setelah tak lama Deri bermeditasi dan berkomunikasi dengan makhluk astral. Tiba-tiba saja orang yang hilang tersebut berteriak dari atas pohon tepat di bawah, Ia bermeditasi. Karena kesaktian dan kearifannya, nama Deri diabadikan pada nama jalan di daerah Teluk Batang tempat ia berada tersebut.

Setelah Deri meninggal digantikanlah, Basyir yang di era tahun 1970an sering menangani fenomena “orang hilang” di lokasi Gunung Tujuh. Banyak di antara mereka munurut masyarakat setempat di tapokkan (sembunyikan) oleh orang kebenaran.

Sepeninggal Basyir, karier dukun kampung diwariskan pada anaknya yang bernama, Sakdilah atau orang orang biasa memanggilnya Wak Cak. Saat ini Wak Cak usianya sudah kurang lebih 65 Tahun. Namun kendati sudah menua, namun kondisi fisiknya masih bugar. Bahkan masih biasa kesana-kemari sendirian dalam rangka dimintai pertolongan.

Wak Cak dikenal oleh masyarakat sekitar selain sebagai dukun kampung. Ia juga sebagai ketua adat yang menegakkan dan menjaga kearifan lokal. Misalnya saat ritual menjelang hari pernikahan, ia bertugas melakukan ritual Pepajang (semacam ritual untuk melakukan pemagaran ghaib). Hal ini dimaksudkan agar di dalam acara pesta pernikahan nantinya tidak akan terjadi halangan.

Selain ritual Pepajang, Wak Cak setiap tahun juga memimpin Acara Selamatan Kampong. Dalam acara tersebut Wak Cak bersama masyarakat melakukan ritual di Gunung Tujuh. Persiapan ritual biasanya membawa bubur merah dan putih, ketupat, dan lain-lain. Ritual itu dipimpin oleh Wak Cak bersama tokoh agama setempat. Maksud dari ritual acara Selamatan Kampong adalah untuk meminta kepada sang Maha Kuasa agar sebuah desa dapat diselamatkan dari balak (bencana).

Ritual lain yang sering dilakukan oleh Wak cak adalah, Ngobat Padi. Pada ritual ini dimaksudkan sebagai bentuk permohonan kepada yang Maha Kuasa, agar padi yang ditanam nantinya akan menghasilkan padi yang bagus. Selain itu, Ia juga sering “ngrenahkan” orang yang biasa pindah rumah atau memberi air selusoh (air putih yang sudah didoakan) kepada orang yang akan melahirkan, tepung tawar, orang kesurupan, dan lain-lain.

Wak Cak berpesan jikalau di Gunung Tujuh ini tidaklah boleh sembarangan. Jangan sekali-kali merusak dan melakukan sesuatu yang tidak senonoh atau melanggar beberapa pantangan. Misalnya membakar jantung pisang, pinang, terung, ataupun buah kembayau. Apabila itu dilanggar maka akibatnya bisa kena badi (kutukan). Adapun kutukan itu bisa berupa ke diri seseorang tersebut secara langsung. Misalnya dengan sakit membiru atau hilang, atau bisa saja terkena pada sahabat dan para keluarganya.

Wak Cak juga bertutur bahwa di Gunung Tujuh hingga sampai saat ini masih terdapat penunggu makhluk ghaib berupa jin. Atau yang biasa disebut sebagai orang kebenaran. Ia beberapa kali berjumpa bahkan melakukan komunikasi dengan makhluk tersebut. Namun dijelaskannya bahwa orang kebenaran atau jin tersebut, tidaklah menggangu atau mengusik manusia. Seandainya jika ada yang mengganggu itu bukanlah orang kebenaran, karena makhluk yang lain juga berada di Gunung Tujuh tersebut.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat mereka juga meyakini bahwa di Gunung Tujuh, selain ada orang kebenaran juga ada makhluk Kuntilanak, banyak di antara mereka yang sering berjumpa.

Namun apapun dan siapapun penunggu di Gunung Tujuh tersebut, kita sebagai manusia beriman, hendaknya mengambil sisi positif dengan menghargai tanpa mengusik siapa dan darimanapun asalnya. Sebab sudah kodrat alam, bagi kita hidup saling berdampingan walaupun berbeda dimensi, namun ada batasan batasan di mana kita wajib menjaga masing-masing batasan tersebut. (MIFTAHUl HUDA)

 

Posted on 13 Februari 2015, in Misteri and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: