Guru yang Baik, Melahirkan Generasi yang Baik


guru yang baik akan melahirkan generasi yang baik warta kayon mi kemenang dinas pendidikan kayong utara

Oleh: Hasanan

“Guru ‘biasa’ memberitahu, guru ‘baik’ menjelaskan, guru ‘ulung’ memperagakan dan guru ‘hebat’ mengilhami”. Demikian ungkapan William Arthur Ward. Seorang sukses berkebangsaan Amerika.

Ungkapan William Arthur benar. Kalimat yang ia kemukankan, seharusnya menjadi karakter yang melekat pada seorang guru. Ini meriupakan salah satu kunci sukses dunia pendidikan. Guru yang hanya memahami, bahwa tanggung jawabnya hanya tahu datang, masuk kelas, mengajar, pulang dan menunggu gajian tiap bulan. Tentu bukan guru yang dimaksud  William.

Ditangan guru pula, masa depan bangsa ditentukan. Guru yang memiliki karakter 4M (Memberitahu, Menjelaskan, Memperagakan dan Mengilhami), sebagaimana maksud William, adalah karakter guru sempurna. Kelak, ditangannya akan lahir generasi-generasi yang mumpuni.

Guru yang memiliki karakter 4M, akan menjadi inspirasi buat anak didiknya. Kedekatannya dengan anak didik (murid), seakan tak berjarak. Sebab dia tidak menciptakan ketakutan pada anak didiknya. Namun membuat anak didiknya merasa nyaman, segan dan menjadikan anak didiknya sebagai teman.

Ini penulisan temukan pada sosok Ismono, S.Pd. Guru penulis saat di SMPN 1 Teluk Melano, tahun 1995 silam. Ismono adalah sosok guru yang paling dekat dengan muridnya. Antara kami dan dia, seakan tak berjarak. Menjadi sahabat bermain, olahraga, jalan-jalan dan ngumpul di luar jam sekolah. Menjadi sahabat semakan, seminum dan setempat tidur. Semoga jasa beliau dilipatgandakan dengan pahala yang setimpal, amin.

Namun jangan salah. Guru yang mendalami disiplin ilmu Matematika ini, adalah sosok guru yang tegas dan disiplin. Semua ada waktunya. Waktu sekolah, ya sekolah. Waktu belajar, ya belajar. Dan waktu istirahat atau libur, baru kita ngumpul dengannya.

Alkisah. Penulis pernah terlambat mengikut jam pelajaran olahraga beliau. Maklum, ketika itu jumlah guru terbatas. Setiap guru merangkap mata pelajaran. Keterlambatan penulis karena dari rumah ke sekolah jalan kaki, yang jaraknya lebih kurang 5 km. Akibat sepada macet, solusinya jalan kaki. Ketika tiba di sekolah, jam praktik oranhraga telah dimulai 20 menit.

Penulis pun melaporkan keterlambatan dengan berbagai alasan. Laporan diterima. Tapi penulis harus berlari keliling lapangan sekitar 50 x 80 meter, sebanyak 5 kali. Sempat penulis mencoba melobi, karena merasa dekat dan berteman dengannya. Namun tak digubriknya.

Bagi Ismono, salah tetap salah. Dan konsekuensinya harus menerima sanksi. Dan inilah yang penulis kagumi dari sosok Ismono. Tentu cara dan sanksi ini tak pantas diterapkan ke anak PAUD. Sebab, dunia anak-anak dan remaja tentu berbeda.

Dari sekian banyak profesi tenaga pendidik. Menurut penulis, guru TK/PAUD adalah profesi pendidik yang agak sulit, dibanding guru lain. Sebab yang di didik, anak usia 3-7 tahun, dengan beragam karakter anak-anak. Ada yang masih manja, atau terbiasa dekat dengan orang tua/ibunya. Belum lagi harus mengurusi ketika mereka ngompol dan buang air besar di celana. Ngurus mereka menangis, aktif bermain dan lain-lain. Ini yang membuat penulis tertarik untuk menulisnya.

Dibutuhkan kesabaran tinggi, kreativitas, keterampilan dan keikhlasan yang memadai sebagai guru TK/PAUD. Bukan sekedar asal dapat bekerja dan mendapatkan uang semata. Jika orientasi kita hanya mengejar uang saja, niscaya kita tidak akan pernah profesional menjalankan profesi kita. Uang hanyalah imbalan atas profesionalitas kita.

Hari ini, masih banyak kita temui tenaga pendidik, khususnya guru-guru di TK/PAUD yang berlaku sebaliknya. Tidak memiliki karakter 4M sebagaimana maksud William. Bahkan tak segan-segan menghardik anak didiknya. Baik dengan cara membentak, mengancam atau memukul. Pada hal ini tak boleh terjadi. Karena besar pengaruhnya terhadap psikologi dan perkembangan mental anak.

Jika ini terjadi pada anak didik, anak bisa trauma berkepanjangan. Apa yang anak dengar, lihat dan rasakan, membekas hingga ia dewasa. Karena, anak itu seperti kaset yang masih kosong. Tergantu orang tua atau gurunya, mau diisi dengan rekaman apa kaset tersebut.

Perlu diingat! Guru TK/PAUD adalah bidannya pendidikan karakter bagi anak-anak bangsa. Jika karakter guru sendiri bermasalah. Cenderung temperamental dan emosional. Suka menghardik anak didik. Bagaimana mungkin bisa membentuk karakter anak bangsa ke arah yang lebih baik?

Dalam Islam, karakter lebih dikenal dengan sebutan akhlak. Bahkan kelahiran Muhammad, rasul terakahir bagi umat Islam, adalah untuk menyempurnakan akhlak. Sebgaimana termaktub dalam hadist. Yaitu, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”, (HR Bukhari).

Kita tidak mungkin menandingi akhlaknya nabi. Karena akhlaknya nabi adalah Al- Qur’an. Namun setidaknya kita bisa mengikutinya. Atau selemah-lemahnya, kita harus bisa membedakan ketika bersikap dan bertindak susuai sikon (situasi dan kondisi). Kerena guru adalah cermin kepribadian manusia.

Ilmuwan asal Mecedonia – Athena, Yunani. Seorang filosof. Ahli geografi, astronomi, zoology, embriologi, geologi, fisika dan psikologi. Pernah pula menulis tentang etika dan metafisika, psikologi, ekonomi, retorika, politik , keindahan pendidikan dan puluhan karya lainnya, sekitar 335 SM. Dialah Arestoteles.

Apa kata Aristoteles tentang karakter. “Karakter yang baik merupakan perbuatan yang benar dalam hidup, berbuat  benar dalam hubungan dengan orang lain, berbuat benar terhadap diri sendiri”.

Nabi Muhammad SAW, pun telah memberikan isyarat kepada pengikutnya. Bahwa ‘mendidik anak harus sesuai dengan jamannya’. Jadi jangan pernah memaksakan keadaan pendidikan yang kita terima dulu, untuk diterapkan ke anak didik setelah generasi kita! Jika itu kita terapkan, artinya kita telah memaksankan kehendak dan melawan sunnah.

Kode etik kita sebagai guru harus menjadi acuan baku, yang harus diimplementasikan (diterapkan). Karena kode etik guru bukan untuk dihafal, sekedar bahan bacaan, atau sebagai ajimat guru. Tapi untuk diterapkan.

Etika itu sangat penting bagi seorang pendidik. Karena peren pendidik sebagai pembimbing, pembina prilaku, sekaligus model prilaku manusia. Pendidik yang sukses, tolak ukurnya bukan sekedar kaya materi. Namun kaya akan nilai-nilai moral dan spiritual.

Belajar memahami sifat, karakter atau psikologi masing-masing anak, sejatinya dilakukan guru TK/PAUD. Karena sifat, karakter atau psikologi anak tidak bisa kita samaratakan. Ketidaksamaan sifat manusia, adalah anugerah Tuhan yang harus kita pahami. Agar kita saling mengenal perbedaan dan kepribadian. Dan menjadikan perbedaan tersebut sebagai potensi yang berharga bagi kehidupan.

Kerana itu, kita tidak bisa menyamaratakan atau memaksakan karakter anak. Tugas kita adalah mengajar, membimbing, membina atau mengarahkan agar anak berkarakter sesuai bakat dan kepribadiannya. Dengan konsep 4M, insya Allah, anak-anak akan merasa dihargai dan terlindungi.

Tanamkan rasa ikhlas di hati untuk mengabdi. Bahwa menjadi guru adalah perbuatan yang mendatangkan pahala besar. Selama apa yang kita sampaikan itu benar. Kemudian direkam anak dengan baik dan melekat hingga dia dewasa. Maka kebaikan kita tersebut akan mengalirkan kebaikan dan pahala buat kita. Kuncinya harus tetap ikhlas.

Jika kita belum ikhlas terjun ke dunia PAUD. Kondisi emosional kita tidak stabil dan cenderung tempramen. Lebih baik kita memutuskan berhenti menjadi guru TK/PAUD. Sehingga tidak menjadi beban buat kita, dan masalah buat anak.

Seorang profesi (guru) bisa profesional, selain ilmu, pengalaman dan keterampilan yang ia miliki. Juga karena keikhlasannya. Mana mungkin orang bisa berilmu, berpengalaman dan terampil, jika ia tidak tekun dan ikhlas mendalami disiplin ilmu atau profesi yang ia tekuni? Kecuali karena terpaksa.

Anak adalah asset bangsa dan masa depan kita. Guru yang baik akan melahirkan generasi yang baik. Sebaliknya. Guru yang memiliki perangai yang tidak baik, akan melahirkan anak didik yang kurang baik pula.

Ingat semboyan Bapak Pelopor Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. Bahwa seorang guru itu harus “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Artinya, “Di depan, seorang guru itu harus memberikan contoh atau teladan baik, ditengah atau diantara murid seorang guru harus menciptkan prakarsa/ide, dan dibelakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan”. Pertanyaannya, sudahkan kita mengikuti jejak Ki Hajar Dewantara?. ( HASANAN)

Posted on 26 November 2014, in Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: