Air Mata Pekerja Batu Pantai


pekerja batu pantai p datok

            Keindahan alam Pantai Pulau datok cukup luar biasa, namanya cukup di kenal hingga menjelajahi belahan dunia luar. Namun siapa sangka di balik keindahannya yang menawan, Pantai Pulau datok menyimpan berbagai Permasalahan. Salah satunya adalah para pekerja batu pantai yang sesungguhnya tidak boleh melakukan kegiatan tambang batu di pantai pulau datok yang notabene adalah kawasan Hutan Lindung juga sebagai tempat wisata.

            Tumpukan batu pantai yang menggunung menjadi saksi bisu dan bukti akan dua sisi kepentingan yang saling tarik menarik. Antara Sesuap nasi dan Aturan, jika aturan di tegakkan maka akan timbul permasalahan mengenai sesuap nasi tadi. Akan sangat sulit di bedakan mana yang perlu dan mana yang tidak. tapi dua duanya sama sama perlu dan sama sama penting.

            Di sisi lain ada sebuah ironi yang tersamarkan, yakni perkara mengalirnya uang ke pihak pihak tertentu hanya dengan modal kenal dengan Pejabat tertentu lalu kemudian orang melayu kayong menyebutnya “nyaman ngomong”. Biasanya kedok mereka adalah aspirasi peningkatan kapasitas dan pelayanan khususnya di bidang pariwisata, lalu dimanakah mereka bermain ?. di sinyalir permainan mereka sangat rapi. Menurut Nara sumber berinisial SH, permainan mereka lebih cenderung mengusulkan proyek non fisik yang di kenal dengan istilah Proyek Detail Engineering Design (DED). Untuk detil paket lelang DED tersebut datanya dapat di lihat di LPSE kayong utara On line.

            Di website resmi LPSE kayong utara tersebut Tahun 2013 saja ada 4 paket proyek DED bernilai ratusan juta rupiah. Dengan kedok proyek DED, mereka bekerja menggunakan jasa konsultan, mereka mudah bermain dengan proyek ini, karena proyek ini bisa dikerjakan hanya di atas meja dengan data yang serampangan. Bahkan menurut nara sumber berinisial SH, Proyek DED ini nilai keuntungannya lebih besar dari pada proyek fisik, maka tak salah lagi jika para Anggota Dewan kompak bersuara untuk ketok palu proyek DED ini, sebab di mungkinkan mereka juga ikut bermain di dalamnya.

            Sungguh ironis, dua perbedaan yang Tajam, antara pekerja batu Pantai dan kelompok Preman berdasi. Preman berdasi lebih berbahaya efeknya untuk merusak, bukan hanya bisa merusak alam, namun juga merusak moral manusia dan menambah kerusakan di mana mana.

            Para pekerja batu di pantai pulau datok rata rata adalah orang miskin yang hidupnya jauh dari kelayakan, mereka miskin, mereka terbelakang dan banyak dari mereka yang tidak berpendidikan, bahkan hingga kayong utara merdeka menjadi kabupatenpun masih ada di antara mereka yang anaknya putus sekolah, padahal kayong utara telah menggratiskan pendidikan. Sungguh ironis bukan.

            Menurut pengakuan salah seorang warga pekerja batu pantai bernama Hamid, ia menuturkan bahwa tidak ada lagi pekerjaan lain yang bisa ia lakukan selain dari menitik batu, sebab menitik batu lebih menghasilkan ketimbang ia menjadi buruh di pasar, yang terkadang tenaganya banyak nganggur.

          Begitu juga Miah, seorang ibu paruh baya yang bekerja menjadi pemecah batu dari mulai harga batu Rp 2000, per Kubik. Miah mengaku pasrah jka nantinya ia di larang mencari batu di kawasan pantai pulau datok. “tapi pemerintah tege ke liat kamek tak makan, bagos gak kamek kerje nitek batu dari pade kamek korupsi”. Demikianlah kalimat sakti yang di keluarkan bu miah dengan logat melayu kayongnya yang kental.

            “Dilihat secara nyata ini adalah kegiatan yang merusak lingkungan, kami selaku pihak Desa tidak dapat berbuat banyak dengan mereka. Karena terus terang kami harus bisa memberikan solusi bagaimana jika mata pencaharian mereka dari menitik batu ini kami larang”. Ungkap Jemawi kepala Desa Sutera kecamatan sukadana. Jemawi juga pernah mengusulkan kepada pemerintah agar warga sekitar pantai yang di bawah garis kemiskinan agar di data dan di buatkan Transmigrasi Lokal, namun hingga saat ini usulannya belum di respon.

            Kepala dinas Energi Sumber Daya Dan Mineral (ESDM ) Kabupaten Kayong Utara, Abdul Halim, menyatakan bahwa menurut aturan, para penambang batu di pantai pulau datok adalah ilegal, hingga sampai saat ini pihak ESDM sendiri tidak pernah memberikan surat izin, baik kepada warga maupun kepada kelompok pengusaha.

            Pihak dinas pariwisata, agak enggan ketika kami konfirmasi tentang keberadaan tambang batu di pantai pulau datok. Di sampaikan lewat kabid pariwisata Ari Hartian, jikakalau kawasan pantai pulau datok di tata dengan gaya natural apa adanya itu lebih baik, namun ia enggan berkomentar jauh tentang keberadaan tambang batu tersebut.

            Semua sepakat bahwa dampak lingkungan dari aktivitas tambang batu liar di pantai pulau datok dan sekitarnya sangat berbahaya untuk keberlangsungan masa depan. Apa yang terjadi jika Batu tepi pantai pulau datok nantinya habis ?. tentu tidak bisa menahan gelombang atau menahan abrasi.

            Batu di tepian pantai memegang peranan cukup penting dalam untuk kelangsungan pantai itu sendiri, menjadi pagar alami, itu sudah pasti, menjadi benteng dari hantaman gelombang.

            Hasanan seorang aktivis sosial dan seorang Citizen jurnalis mengungkapkan bahwa, dalam hal ini pemerintah harus betul betul betul adil dan bijak dalam menentukan kebijakan. Jangan sampai masyarakat kecil yang hanya berniat mencari sesuap nasi menjadi korban kebijakan yang di balut dengan aturan aturan yang membuat kebanyakan kalangan masyarakat justru menjadi korban, sementara ketika perusahaan perusahaan besar melakukan perampokan alam dengan kedok mensejahterakan masyarakat melewati usaha tambang bouksit, emas, Sawit dan lain lain di izinkan.

            Sebut saja perusahaan sawit  J*, in salah satu perusahaan sawit besar di kayong utara. Apa yang ia sumbangkan tiap tahun untuk masyarakat?. Banjir, Pencemaran Limbah Pabrik, Musnahnya beberapa Habitat, itu yang pasti. Lalu apa yang di nikmati masyarakat?. Paling paling hanya gaji kuli di bawah standard dan sedikit uang lembur yang hanya cukup untuk membeli daging dan kue lebaran. Sungguh tak sebanding antara manfaat dan mudharatnya.

            Perlakuan adil dan bijaksana sangat di tunggu tunggu masyarakat, mereka adalah aset, hanya mereka adalah golongan orang orang lemah yang tidak mampu. Jangankan berfikir masalah Pelestarian alam dan tetek bengek, untuk pendidikan yang di jamin pendidikan gratsi saja mereka tidak begitu peduli, sebab mereka Lapar, sebeb ekonomi mereka tidak mapan, mereka tidak mampu untuk berfikir apalgi cerdas sebab mereka lapar.

            Belum lagi ancaman penggusuran karena pelarangan yang menghantui mereka setiap saat. Terkadang malam hari mata mereka sulit untuk di pejamkan.bahkan ketika di pejamkan pun mereka akan bermimpi buruk tentang lokasi tambang mereka yang sewaktu waktu alkan di gusur. Hari hari mereka menangis bathin, air mata mereka sudah kering di sapu angin pantai yang terus semilir menemani para pekerja batu Pantai dari pagi hingga menjelang sore hari. ( wk tim)

Posted on 5 Mei 2014, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: