Daily Archives: 25 Agustus 2012

Membaca Peta Politik Kayong Utara 2013


Tak lama lagi pesta demokrasi akan sampai gilirannya pada kabupaten kita pada tahun depan antara bulan Maret hingga Juni, demikianlah Informasi sementara yang saya dapatkan. Menurut berbagai pengamatan pada PILKADA tahun depan KKU akan banyak terjadi kejutan luar biasa yang mungkin tidak kita duga sebelumnya, hal ini telah tampak dari semangat dari sebagian besar masyarakat Kabupaten kayong utara yang menghendaki perubahan akan tatanan pemerintah yang saat ini di pandang masih belum memuaskan, adil dan merata bagi semua lapisan. Kita sama sama berharap semoga saja niat baik masyarakat kayong utara akan perubahan benar benar terwujud.

Secara pribadi saya juga memperhatikan perkembangan yang ada, lebih spesifik saya akan ajak saudara saudara berfikir mengenai Peta Politik Bakal Calon Bupati Kayong utara Tahun 2013. ada beberapa BALON memang yang namanya telah mencuat di permukaan masyarakat Di antaranya: Hildi Hamid ( Incumbent ), Jalian, S. Sos ( PNS ), Efendi Ahmad, S.Pd. I, ( Anggota DPRD), Ibrahim Dahlan ( Ketua DPRD ), Syukran, S. Ag. Msi ( Anggota Dewan). Sederetan nama tersebut untuk sementara telah mengamankan basis Politik mereka masing masing.

Yang justru menjadi terancam pada sat ini adalah Posisi H Hildi Hamid ( Incumbent), pasalnya menurut dari berbagai sumber dan pengamatan secara birokrasi kekuatan didalam tubuh mereka telah tercerai berai, hal ini terlihat jelas dari kontroversi beberapa pernyataan dari Ir. Said Tihi ( yang saat ini adalah wakil incumbent), yang intinya sudah tidak lagi sepaham denga Incumbent, bahkan menurut kabar kabar angin ia malah akan berpasangan dengan orang lain ketika Maju dalam Pilkada 2013 nanti.

Belum lagi Didalam Tubuh Birokrasi, Jalian S. Sos yang saat ini menjabat sebagai Asisten di PEMDA KKU juga akan mencalonkan diri. Dari berbagai sumber di sebutkan bahwa hampir separoh dari kalangan Pegawai di ruang lingkup PEMDA juga ikut mendukung Jalian S. Sos Maju menduduki kursi Bupati 2013 Nanti. Dari hasil pengamatan kami dilapagan kekuatan Jalian S. Sos Sendiri juga cukup mengakar di masyarakat karena pada masa masa sebelumnya ia pernah menduduki beberapa Jabatan Penting yang langsung berhubungan dengan masyarakat, di tambah lagi dengan sosoknya yang low profile dan ramah juga menjadi penilaian tersendiri di hati masayarakat.

Ibrahim Dahlan ketua DPRD KKU, dengan mesin politiknya yang menjadi pemenang pemilu khusus di KKU, juga tidak bisa di anggap remeh megingat massa GOLKAR pada tahun 2009 adalah massa nomor 1 megalahkan massa PPN yang nota bene pada saat itu adalah partai putra daerah yang di prakarsai oleh OSO ( Usman sapta Odang).

Kemudian tak kalah mencengangkan juga bahwa dukungan juga mengalir kepada Effendi Ahmad, S. Pd. I, yang namnya juga mencuat menjadi Bakal Calon Bupati. diam diam ternyata di berbagai wilayah di KKU khususnya basis Teluk Batang, Ia juga mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat, di tambah lagi dengan jiwa Agamis  dan kesederhanaannya yang tentu juga memiliki nilai Plus di hati masyarakat, Bahkan menurut kabar burung pasangannya Adalah Abdulrahman yang juga sebagai Anggoda Dewan memilki basis kuat di Pulau Maya karimata dan sekitarnya juga patut di perhitungkan.

Dengan Semangat Baru yang di usung Oleh Syukran, S. Ag. Msi juga anggota dewan yang rencana juga mencalonkan diri menjadi bakal calon bupati kayong utara. Tak di ragukan ia juga memiliki tempat tersendiri di masyarakat khususnya kalangan pemikir dan intelektual yang cukup berpengaruh dalam penggalangan massa.
Pada kesimpulannya jelas posisi incumbent pada peta Politik saat ini terkepung dari berbagai arah, karena suara masyarakat kayong utara mengerucut pada satu pilihan yaitu melakukan perubahan dari kondisi saat ini. Maka atas dasar Perubahan tersebut  mereka telah siap mendukung para BALON untuk menggantikan posisi Incumbent. OK kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya. Apakah memang masyarakat benar benar ingin perubahan tersebut ?. …. Kita nantikan jawabannya pada 2013 nanti.

By : Drs. Adi J  20/08/2012

 

 

 

 

 

 

NASIONALISME DI TEPI JURANG



Sejak kecil atau ketika kita berusia TK mungkin kita sudah mendengar bahwa tanggal 17 Agustus itu adalah hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia dari penjajahan, sejak tahun 1945 yang lalu. Berita kemerdekaan itu selalu diupdate saban tahun atau setiap hari sejak kita duduk dibangku TK hingga ke perguruan tinggi. Saban tahun selalu saja ada pengrekrutan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) atau Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Namun sadarkah kita bahwa nilai-nilai perjuangan ’45 itu telah luntur bersama waktu. Materi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan lunturnya nilai-nilai luhur tersebut, nilai-nilai yang mampu melepaskan bangsa Indonesia dari cengkeraman kolonialis sehingga pada hari ini kita tidak lagi menyaksikan kekejaman bangsa penjajah dan selalu menanamkan rasa ketakutan sepanjang hari pada bangsa pribumi (bumiputera).

Hal yang sangat sepele kadang terlupakan dalam momentum 17 Agustus tersebut yaitu bahwa kita melupakan kewajiban kita mengibarkan berdera Merah Putih di depan halaman rumah kita sebagai bentuk penghormatan pada nilai-nilai kepahlawanan dan para pahlawan yang telah berkorban harta, pikiran, jiwa dan raganya demi menumpas penjajah di bumi pertiwi ini. Kita lebih disibukan dengan pekerjaan yang setiap hari tidak akan berpenah berhenti. Tidakah kita sadar bahwa kita bisa leluasa bekerja, leluasa berusaha dan leluasa berkiprah, berbicara, berorganisasi dan melaksanakan aktivitas lainnya itu berkat jasa para pahlawan kita dulu. Mereka (para pahlawan) dulu, jangankan mau berbicara bebas atau aktif di organisasi perjuangan, menyatakan kemerdekaan saja harus mendekam di jeruji besi. Sementara kita hari yang seakan kebebasan itu tidak ada batas lagi, begitu mudah melupakan jasa-jasa para pahlwan pejuang kemerdekaan kita.

Memang ironis. Sykur-syukur mengibarkan bendera pada tanggal 17 Agustus tersebut di halaman rumahnya walaupun tiang benderanya terbuat dari bambu atau kayu bulat yang kusut, ini tidak sama sekali. Seolah-olah mereka tidak tahu lagi apa yang terjadi sebelum dan sesudah tanggal 17 Agustus tersebut. Bayangkan saja, rumah, perabotan rumah, kendaraan dan lainnya serba mewah, namun tiang bendera yang terpasang pada saat peringatan HUT RI di depan rumah kita terbuat dari bambu dan kayu bulat yang kusut. Inikah etika kita sebagai bangsa yang beradab? Bangsa yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur? Pada hal kita pernah mendengar dan sering mengatakan sebuah pernyataan bahwa, “Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghormati nilai-nilai dan semangat kepahlawanan.”

Dan yang lebih miris lagi, ada kantor dan rumah pribadi pejabat negara yang tidak memasang bendera kebanggaan bangsa ini, sang “Merah – Putih.” Pun ada juga pejabat yang memasang bendera tetapi menggunakan tiang bambu atau kayu bulat yang kusut. Ada pula kantor yang bertahun-tahun benderanya tidak tidak pernah diturun-turunkan hingga kusam dan robek. Ada apa dengan bangsa ini? Mengapa semangat nasionalisme dan patriotisme bangsa ini telah luntur? Mengapa generasi ini begitu bangga dengan norkoba, miras, dugem dan melakukan kemaksiatan lainnya? Sebab itu wajar saja jika kebayakan generasi ini tidak hafal dan paham dengan makna benderanya, makna dan isi Pancasila, mengerti teks proklamasi, hafal lagu kebangsaan Indonesia dan lagu perjuangan lainnya, tahu cerita dan mengenal pahlawannya, dan lain sebagainya. Kerena mereka begitu larut dan menikmati keindahan dunia ini dengan melupakan nilai perjuangan dan jasa para mujahidin dalam memperjuangkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan tetesan darah para syuhada.

Hal yang paling mencengangkan kita lagi, bahwa hari ini begitu banyak generasi ini yang tidak percaya lagi kepada pencipta dirinya (Tuhan Yang Maha Esa), alias ateis. Pada dalam Pembukaan UUD 1945 alenia ke- 3 menyebutkan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorong oleh keinginan luhur…….” Maknanya apa? Karena kemedekaan bangsa Indonesia itu berkat restu/seijin Tuhan yang patut kita syukuri, bahwa bangsa Indonesia percaya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sebab para pejuang dulu mereka berjuang dan berdo’a (ora et labora) orang latin bilang. Jangankan mensyukuri kemerdakaan yang dianugrahkan Tuhan, menghormati nilai-nilai kepahlawanan saja kita begitu berat, bahkan malah ateis dan menghianati mujahidin/pahlawan yang telah berjasa besar kepada kita atas nama kebebasan dan HAM.

Tiga abad setengah itu bukanlah waktu yang pendek. Berapa bayak jiwa yang terbunuh dalam kurun waktu tersebut? Berapa banyak mayat yang tidak terkubur dengan layak? Berapa besar pengorbanan para pendahulu kita dalam mempertahankan tumpah darahnya? Barepa banyak ladang-ladang kekayaan bumi kita diangkut penjajah ke daerah asalnya? Berapa banyak jiwa-jiwa yang menjerit menahan lapar dan mati kehausan? Tak terhitung dan ternilai. Hanya dalam waktu 67 tahun saja sudah banyak diantara kita yang melupakan nilai-nilai kepahlawanan tersebut. Kita begitu sombong dengan kekayaan, jabatan dan kemewahan yang kita miliki. Kita begitu angkuh mengaku diri kita yang paling hebat. Kita sangat bangga sebagai bangsa yang menyandang predikat bangsanya para koruptor. Kita sangat senang dengan penderitaan dan kemiskinan saudara-saudara kita yang hidup seperti di era perang dulu. Kita merasa bebas menyatakan bahwa kita tidak memiliki Tuhan atas nama HAM. Kita begitu mudah menyatakan diri kita adalah pahlawan, pada hal apa yang kita lakukan itu sangat jauh dari nilai-nilai kepahlawanan.

Semoga momentum 17 Agustus 2012 ini menjadi momen kebangkitan nasionalisme kita terhadap nilai-nilai perjuangan dan nilai-nilai kepahlawanan, bukan hanya nilai-nilai yang mampu mengusir penjajah di bumi nusantara ini, namun nilai-nilai yang mampu membangkitkan semangat untuk melawan kezaliman, kelaliman, kemaksiatan, kesyirikan, kebejatan moral, ketamakan dan kecintaan kita terhadap dunia secara berlebihan, sehingga kita mampu bangkit menjadi bangsa yang besar, bermartabat, mandiri, agamis, sehat dan cerdas demi meneruskan cita-cita para pahlawan kita tercinta, yaitu mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan pengorbanan harta, pikiran, jiwa dan raganya. Semoga, amin.

Dirgahayu Indonesiaku yang ke- 67. Semoga Indonesia tetap jaya dan bermartabat, sebagaimana tema yang disematkan buat memperingati hari jadimu kali ini.
“Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Bekerja Keras untuk Kemajuan Bersama, Kita Tingkatkan Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan untuk Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”

by Ujang Tingang (edisi: 15-08-2012).

Akankah Pemilukada Kalbar Luber dan Jurdil?



Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kalimantan Barat (Kalbar) sebentar lagi dihela, tepatnya 20 September 2012 untuk putaran pertama. Benarkah Pemilukada Kalbar akan berlansung secara Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luber) atau Jujur dan Adil (Jurdil)? Sepertinya masih jauh panggang dari api. Manifulasi, diskriminasi, intimidasi dan politik uang masih akan terjadi di pemilukada kali ini, terutama di daerah pedalaman.

Baru-baru ini teman bang UT habis dari melakukan perjalanan ke daerah pedalaman dalam rangka kegiatan bisnisnya. Ia menuturkan, sangat susah melihat reklame/baleho dari 4 pasang calon gubernur yang ada di daerah tertentu, cuma yang banyak tampil hanya 1 pasangan calon tertentu saja. Yang menjadi pertanyaan kita, apakah 3 calon yang lain tidak pernah masuk/sosialisai? Apakah 3 calon yang lain tidak memiliki kader partai pendukung/pengusung atau tim suksesnya? Atau mungkin semua calon masuk/sosialisasi/memliki kader/tim namun ada semacam penolakan secara tidak langsung dari komunitas masyarakat di desa/daerah tertentu yang menolak calon lain masuk ke desa/daerah mereka? Jawabannya pun sangat beragam dan relatif.

Jika kondisinya benar-benar demikian, berarti pendidikan politik dan demokratisasi di Kalbar staknan. Tentu hal tersebut menjadi pekerjaan berat kita semua dan perlu pengawasan yang ekstra sehingga tidak munncul kecurangan-kecurangan dalam proses pemilihan dan penetapan hasil pemilihan, atau terjadi manifulasi data dan hasil pemilihan serta diskriminasi dan intimidasi kepada pemilih yang notabene adalah lawan politik dari pasangan calon yang minim pendukung versus masyarakat setempat yang dominan mendukung pasangan tertentu. Kondisi daerah pedalaman yang sulit dijangkau dan pemukiman penduduk yang tidak merata sangat memungkinkan terjadinya tindakan penyelewengan pemilukada jika pengamanannya tidak super. Namun kita hanya bisa berdo’a semoga hal ini tidak akan pernah terjadi di Kalbar tercinta.

Untuk mengurangi dampak tersebut paling tidak peran pemerintah kabupaten/kota sangat menentukan. Pemerintah Kabupaten/kota harus benar-benar menjamin bahwa pemilukada Kalbar Luber dan Jurdil, serta menjamin tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana dikemukakan di atas, paling tidak diminimalisir. Kemudian pejabat pemerintah kabupaten terutama PNS, TNI dan Polri harus benar-benar netral dan tidak latah mengkampayekan pasangan calon tertentu. Netralitas yang tidak kalah penting juga yaitu dari penyelenggara pemilu itu sendiri, mulai dari KPUD provinsi, KPUD kabupaten/kota, PPK, PPS, KPPS, dan kelompok penyelenggara pemilukada lainnya harus benar-benar netral, sehingga kualitas dan hasil pemilihan terjamin kevalidannya.

Kita semua tentu tidak ingin Pemilukada Kalbar ini kotor karena ambisius pasangan calonkada (calon kepala daerah) tertentu, yang ingin meraih kemenangan dengan cara-cara kotor, tidak bermartabat atau menghalalkan segala cara. Sebagai masyarakat yang tercas, kita jangan mudah terprovokasi dengan isu-isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran. Jangan mudah terpacing dengan permainan politik yang selalu menyihir mata hati dan pikiran kita untuk melakukan pembelaan yang konyol dan tidak bermartabat. Kekerasan bukanlah solusi yang bijak dan mendidik, namun akan melahirkan generasi yang arogan dan biadab.

Kepada semua pasangan calon yang bertarung. Jika anda-anda ingin menjadikan masyarakat Kalbat sebagai masyarakat yang cerdas dan bermartabat, masyarakat Kalbar yang santun dan beretika, maka itu harus dimulai dari diri anda-anda sekalian. Berikan pendidikan politik yang baik kepada rakyat anda, sebab anda-anda semua adalah cermin dari masyarakat anda dan masyarakat anda adalah cermin anda sendiri.

by Ujang Tingang (edisi: 19/9/2012)

%d blogger menyukai ini: